Pelajaran Berharga dari Tumbangnya Situs e-Commerce Indonesia

Tumbangnya Situs e-Commerce Indonesia

Beberapa waktu yang lalu 3 situs e-commerce Indonesia mengalami downtime selama kurang lebih 6 jam. Sebagaimana kita telah ketahui, sudah tidak ada toleransi lagi terhadap downtime pada era ekonomi digital yang semakin cepat ini. Namun, ada beberapa pelajaran berharga yang dapat kita petik dari tumbangnya 3 situs e-commerce Indonesia tersebut. Mari kita gali lebih lanjut dampak kerugian yang di alami.

Dampak Kerugian Downtime Terhadap Tumbangnya Situs e-Commerce Indonesia

Berdasar dari penjelasan di situs Tempo di bulan Januari 2017, Tokopedia memiliki transaksi Rp. 1 Triliun per bulan. Ini artinya per hari terdapat transaksi sebesar Rp. 33 Milyar. Jam efektif dalam melakukan transaksi berkisar 10 jam saja per hari. Artinya, dalam 1 jam downtime akan terdapat kehilangan transaksi sebesar Rp. 3,3 Milyar dan 6 jam downtime maka akan terdapat kehilangan transaksi hampir Rp. 20 Milyar.

Selain situs marketplace Tokopedia, downtime tersebut terjadi berbarengan dengan situs marketplace Bukalapak dan JD. Tentu ini akan semakin menarik jika kita telusuri infrastruktur data center yang mereka pakai, karena sepertinya mereka memakai satu data center yang sama.

Sedangkan untuk situs e-commerce Indonesia yang bernama BukaLapak tersebut, memiliki transaksi Rp. 20 miliar per hari. Ini artinya per 1 jam downtime akan kehilangan potensi transaksi sebesar Rp. 2 miliar, dan per 6 jam Rp. 12 miliar.

Dari penjabaran tersebut diatas, kita mulai dapat menyimpulkan bahwa untuk misi kritis situs e-commerce Indonesia bernilai Rp. 2 milyar hingga 3 milyar per jam. Lantas solusi apa yang dipakai oleh  situs e-commerce Indonesia tersebut?

Pentingnya Situs Marketplace Memiliki Disaster Recovery as a Service

Disini letak pentingnya sebuah infrastruktur data center yang kuat, yang dapat di andalkan untuk menghadapi downtime. Dengan sistem on-premise, dalam hitungan menit situs-situs marketplace tersebut dapat beroperasi kembali. Sehingga masalah tidak muncul hingga ke publik dan tidak menjadi konsumsi pemberitaan.

Potensi kehilangan transaksi tersebut bukan merupakan kerugian real yang di alami oleh situs-situs e-commerce tersebut. Akan tetapi, branding dan kepercayaan publik akan menurun. Misal, nilai valuasi usaha Tokopedia mencapai Rp. 1.2 Triliun, dengan 12 juta pengguna, maka nilai aktivasi per user mencapai Rp. 1 juta.

Jika downtime tersebut mengakibatkan ribuan pengguna berpindah ke marketplace lain, maka tentunya Tokopedia atau situs e-commerce Indonesia lainnya tersebut memerlukan milyaran rupiah untuk merebut kembali pengguna mereka.

Data center on-premise untuk kebutuhan mitigasi bencana memang akan berbiaya mahal, dapat berkisar mulai dari Rp. 120 juta per tahun. Biaya tersebut belum termasuk perangkat keras yang harus di beli. Namun, sistem lainnya untuk mitigasi bencana, yakni Disaster Recovery as a Service atau disingkat dengan DRaaS. Layanan DRaaS sangat fleksibel dalam biaya, artinya anda dapat memakai sesuai kebutuhan saja dan dapat di scale-up jika anda membutuhkan lebih.

Layanan DRaaS Enterprise Grade

 

Yang perlu di perhatikan dalam memilih solusi cloud dalam disaster recovery adalah :

  • Infrastruktur data center. Minimal harus Tier III dan sertifikasi hanya dari Uptime Institute, bukan dari badan lain. Selain itu, perhatikan juga sertifikasi lainnya, seperti manajemen keamanan data center ISO 27001.
  • Teknologi cloud. Sebuah penyedia cloud yang dapat diandalkan untuk misi kritis akan memiliki manajemen ekosistem cloud terbaik. Artinya, mereka sudah menerapkan DevOps, menggunakan kontainerisasi dan orkestrasi. Ini sangat penting untuk memastikan kelincahan, kecepatan, kemudahan, fleksibilitas, dan sinkronisasi data.
  • Sistem Fail-Over. Pastikan provider DRaaS yang anda pilih telah menggunakan fail-over agent terbaik, artinya sekitar 15 menit hingga maksimal 2 jam sistem anda dapat dipulihkan menggunakan cadangan sistem dan data yang ada di mesin virtual DRaaS.
  • Lokasi Data Center. Sesuai praktik terbaik, pilih penyedia DRaaS yang menggunakan infrastruktur data center berlokasi berbeda dengan data center utama anda, dan tidak lebih dari radius 50 kilo meter untuk mencegah data-loss karena network latency.

Colocation server untuk sebuah situs e-commerce memang seharusnya pada data center Tier III, karena data center Tier III memiliki downtime hanya 1.5 jam per tahun. Sehingga, data center Tier III dapat melepas stress dan kekhawatiran anda dari mimpi buruk yang terus menghantui, yakni downtime.

Komentar ditutup.