Suara Keras Sistem Pemadam Kebakaran Sebabkan Data Center Lumpuh

Operasi Data Center Lumpuh 10 Jam Karena Suara Keras dari Sistem Pemadam Kebakaran

Dalam sebuah fenomena yang aneh dan langka, suara keras yang dibuat oleh gas inert yang dirilis selama pengujian sistem pemadam kebakaran tidak hanya memaksa sebuah data center utama bank di Bucharest, Rumania, offline, tetapi juga berhasil menghancurkan puluhan hard drive yang mengalami kerusakan serius dan tidak dapat dibatalkan.

Operasi Data Center Lumpuh 10 Jam Karena Suara Keras dari Sistem Pemadam Kebakaran

Pekan lalu, Daniel Llano, Kepala ING Retail Banking mengaku kepada pelanggan bahwa “masalah teknis yang serius” tersebut disebabkan oleh banjirnya Inergen. Inergen adalah semacam sistem pemadam kebakaran yang bergantung pada gas dimana lebih baik dari pada busa atau cairan. Cocok untuk ruang tertutup, Inergen, disimpan dalam silinder gas terkompresi, yang tersebar melalui selang dan nozel yang merata di seluruh ruang kecil untuk memadamkan kebakaran.

Biasanya, jenis proteksi kebakaran ini adalah yang paling cocok untuk di data center. Karena busa dan cairan akan merusak perangkat IT, akan tetapi dalam kasus ini, ada sesuatu yang tidak beres. Ketika gas dikeluarkan melalui nozel, tekanan terlalu tinggi, yang pada gilirannya menimbulkan suara sangat keras ketika Inergen dilepaskan.

Sebuah sumber mengatakan bahwa suara yang dihasilkan oleh pengujian sistem pemadam kebakaran tersebut menjadi lebih keras dari yang diharapkan. Hal tersbut melebihi batas lebih dari 130dB berdasar pemantauan yang ada di bank tersebut. Sayangnya, suara tersebut menyebabkan getaran, yang ditransfer ke casing hard drive yang tersimpan di pusat data.

Dampak Kerusakan dan Cadangan Sistem

Server dan penyimpanan data yang terpengaruh, serta transaksi kartu, aktivitas ATM, internet banking, email dan website bank. Perusahaan menggunakan data center cadangan, sehingga beberapa saat kemudian para pelanggan dapat melakukan transaksi kembali.

“Saya mengaktifkan prosedur darurat dan rencana pemulihan bencana yang tersedia untuk situasi seperti itu,” kata Llano. “Tetapi karena besarnya dan kompleksitas kerusakan, sayangnya, waktu yang dibutuhkan untuk memulihkan kegiatan dengan back-up menjadi lebih lama dari pada tes yang kami lakukan secara teratur.

Bank dipaksa untuk melakukan restart layanan dan mengambil banyak tindakan pencegahan. Mungkin pihak ING juga telah membuat salinan tambahan dari database perusahaan. Penyelidikan bencana juga dimulai dengan skenario untuk mencegah hal tersebut terjadi lagi.