Peraturan Fintech OJK Bertujuan Melindungi Pelaku Fintech

fokus peraturan fintech ojk
apa fokus dari peraturan fintech ojk ?

Mungkin ada pemahaman yang kurang tepat seputar pentingnya penggunaan pemulihan bencana untuk mitigasi risiko seperti yang di atur pada peraturan fintech OJK. Sebetulnya, peraturan fintech OJK tersebut bertujuan untuk melindungi bisnis FinTech itu sendiri.

Seperti kita ketahui, peraturan FinTech OJK itu sendiri mewajibkan pada pelaku usaha di industri teknologi keuangan untuk menjamin keberlangsungan operasional. Terutama untuk infrastruktur teknologi informasi yang resilience agar dapat memulihkan sistem ketika terjadi gangguan.

Peraturan Fintech OJK Memastikan Keberlangsungan Operasional

Kemampuan untuk beroperasi terus menerus menimbulkan kebutuhan akan penggunaan sistem atau infrastruktur cadangan. Hanya dengan cara ini bisnis dapat menjamin keberlangsungan operasional, menempatkan sistem dan data pada disaster recovery data center.

Fokus Pada Peraturan Fintech OJK: Lokasi Disaster Recovery Data Center

Network latency atau perlambatan jaringan kerap menimbulkan masalah pada transfer data. Hal ini dapat kita temui dalam proses migrasi data misalnya.

Baik di dalam peraturan FinTech OJK maupun peraturan dari Kemenkominfo, telah disyaratkan secara jelas bahwa lokasi Disaster Recovery Data Center harus berada di wilayah Indonesia.

Secara teknis, para praktisi dan organisasi pemeringkat data center seperti The Uptime Institute telah menemukan bahwa DR Data Center sebaiknya tidak lebih dari 60 kilo meter jarak radiusnya dengan pusat operasi bisnis.

Misal, kantor operasional bisnis anda berada di Jakarta, dan anda menggunakan infrastruktur data center di Gedung Cyber, Jakarta. Maka, anda dapat menggunakan data center di Bogor yang jarak radiusnya masih dibawah 60 kilo meter, yakni 42 kilo meter.  Hal ini untuk mencegah data loss atau data corrupt saat backup rutin, pada proses fail over dan proses fail back.

Pengujian Kode Dapat Sebabkan Downtime

Disamping itu, tidak bosan kami ingatkan kembali bahwa dalam bisnis FinTech pengujian terhadap kode akan lebih sering dilakukan. Ini artinya, akan lebih banyak potensi downtime.

Bahkan, jika anda menggunakan infrastruktur cloud seperti AWS, Azure dan Google Cloud tetap tidak ada yang kebal terhadap downtime. Ini artinya, solusi mitigasi bencana harus ada agar operasional bisnis dapat tetap berjalan ketika cloud hosting anda mengalami downtime.

Berapa Biaya Disaster Recovery Data Center ?

Pada awalnya biaya untuk Disaster Recovery data center cukup mahal. Anda harus siapkan perangkat dan membayar sewa coloctaion serta layanan pendukung lainnya. Saat ini, teknologi cloud telah memungkinkan para startup FinTech untuk memiliki sarana mitigasi downtime.

Disaster Recovery as a Services (DRaaS) merupakan pilihan yang tepat sebagai solusi mitigasi downtime bagi bisnis kecil dan menengah.

Dengan DRaaS, perusahaan anda tidak perlu investasi membeli perangkat. Cukup install DRaaS agent (untuk replikasi, fail-over dan fail-back) maka anda sudah memenuhi syarat peraturan FinTech OJK tersebut.

Biaya DRaaS akan jauh lebih murah jika dibandingkan dengan kerugian downtime. Per 1 kali downtime, mungkin dapat menutupi biaya DRaaS selama 10 tahun!.

Menanggap Tidak Akan Pernah Terkena Downtime

Banyak perusahaan yang menganggap tidak akan pernah terkena downtime. Contohnya sebuah Bank dan Perusahaan FinTech di Inggris yang beberapa waktu lalu terkena downtime beberapa hari.

Demikian para pengguna Azure yang pernah mengalami downtime selama 3 hari lebih,  AWS dan Google dengan rata-rata downtime 4 jam. Tentunya DRaaS sudah merupakan kebutuhan di era digital sekarang ini.

Selain karena serangan DDoS, downtime juga sering terjadi karena ‘IT-Glitch‘, infrastruktur data center yang kepanasan, dan gagal membangkitkan tenaga cadangan.

Ini artinya, downtime dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa dapat diduga dan tidak ada yang kebal terhadap downtime, bahkan perusahaan teknologi informasi raksasa sekalipun.

Saat terjadi downtime, pengguna atau nasabah akan kecewa dan mulai lari ke pesaing bisnis anda. Downtime juga dapat memperburuk kepercayaan di kalangan investor, serta meruntuhkan kepercayaan diri karyawan. Bahkan ada bisnis yang tutup karena terlalu banyak mengeluarkan biaya dan tuntutan hukum saat terjadi downtime dan pencurian data oleh malware. Ini dapat di cegah dengan menggunakan DRaaS.

EliVault DRaaS Indonesia

Kesimpulan:

Di era digital ini, persaingan akan berada pada kemampuan untuk lakukan inovasi secara terus-menerus. Peraturan FinTech OJK tersebut telah mempertimbangkan konsep DevOps / containerization, orkestrasi dan otomatisasi pada bisnis FinTech.

Oleh karena itu, Cloud Disaster Recovery merupakan pilihan utama bagi para pelaku bisnis FinTech. Selain mudah pemasangannya (dalam hitungan jam), biaya yang sangat efisien (tidak membebani keuangan perusahaan startup) dan mendukung skalabilitas. Sehingga, ketika bisnis anda dapat berjalan tanpa gangguan operasional dan semakin berkembang, biaya DRaaS dapat disesuaikan mengikuti skala bisnis anda.