Pemeliharaan Terprediksi dapat Mencegah Downtime

Cegah Downtime dan Kegagalan Sistem pada OrganisasiCegah Downtime dan Kegagalan Sistem pada Organisasi

Terutama di instansi pemerintahan, kini mungkin telah percaya bahwa kemungkinan downtime pada data center tidak dapat dihindari, dan kenyataannya bahwa kegagalan data center dapat dicegah dengan teknologi yang tepat dan dengan profesionalisme. Biasanya, untuk cegah downtime pada data center sangat kental pengertiannya dengan berapa biaya yang harus di anggarkan oleh instansi pemerintahan atau perusahaan.

Sudah sejak lama strategi pemeliharaan berdasar kejadian dilakukan baik secara sengaja maupun tidak sengaja oleh organisasi terutama pada organisasi pemerintahaan. Hal ini seperti jika ada kegagalan hardware seperti server kepanasan maka staff akan melaporkan hal tersebut dan melakukan perbaikan, dan seakan permasalahan selesai, stragegi seperti ini masih membuka peluang downtime dapat terjadi kembali kedepannya. Dan cukup sering kali dokumentasi pemeliharaan masih dicatat secara manual baik dengan spreadsheets maupun dengan kertas.

Saat terjadi kegagalan sistem, akan banyak bihak yang dirugikan dan dapat membawa pada masalah tuntutan hukum. Pemeliharaan terprediksi dapat cegah downtime.

Cegah Downtime Data Center dengan Pemeliharaan PrediktifStrategi pemeliharaan data center telah berkembang ke arah penjadwalan pemeliharaan periodik berdasar data historis atau berdasar rentang ketahanan tiap-tiap elemen pada infrastruktur IT secara keseluruhan. Dan tentunya ini merupakan langkah awal yang baik walaupun belum cukup sampai disitu untuk mengurangi resiko kegagalan sistem yang secara langsung berkaitan dengan kerugian keuangan yang dapat timbul, yang bahkan jika terjadi satu menit saja data center downtime.. maka dapat menimbulkan bencana keuangan jika di perusahaan, bencana jabatan jika di instansi pemerintahan, bahkan dapat sampai mengantar ke masalah tuntutan secara hukum. Oleh karena itu harus dapat cegah downtime mulai dari sekecil apapun masalah downtime tersebut.

Contoh Kasus :

Kerugian Akibat Kegagalan Sistem (Pictures of The Downtime Cost)

Sebetulnya seluruh usaha yang berkaitan dengan internet atau jaringan, akanĀ  memiliki resiko downtime data center yang dapat memakan biaya cukup besar.

Menurut sebuah studi, rata-rata biaya kerugian downtime pada suatu organisasi dapat menimbulkan biaya sekitar Rp. 1.794.000.000 (hampir Rp. 1,8M – *red). Tentunya biaya tersebut cukup besar dan otomatis harus dilakukan tindakan untuk cegah downtime pada data center.

Amazon pernah mengalami downtime 49 menit di tahun 2013 yang menyebabkan kehilangan penjualan sebesar Rp. 5.2 milyar ($ 4m). Demikian juga lebih dari setengah 500 perusahaan Fortune mengalami downtime setidaknya 1.6 jam setiap minggu.

Outsourcing Data Center

Solusi praktis untuk masalah downtime adalah dengan meng-colocation server pada operator data center yang sudah ter sertifikasi minimal Tier III dan memiliki staff profesional yang kuat dari berbagai bidang keahlian yang dibutuhkan untuk mengoperasikan sebuah data center sekelas gedung.

Atau opsi lain yang mungkin lebih ekonomis adalah dengan melakukan pemeliharaan data center yang dilakukan oleh para ahli yang sudah terbukti pengalamannya atau pada jasa full managed services yang mana tergabung dalam paket layanan para operator data center tersebut. Sebab pada banyak kejadian, terkadangĀ  kegagalan sistem terjadi karena faktor human error, dalam hal ini menggunakan jasa managed service dapat lebih di pertanggung-jawabkan, terutama untuk institusi pemerintahan.

Pemeliharaan Terprediksi Berdasar Data Real Time untuk Cegah Downtime

Merupakan solusi yang lebih jelas, karena dengan strategi pemeliharaan terperdiksi dapat membantu organisasi dalam mengantisipasi masalah sebelum terjadi, bukan setelah terjadi.

Seperti namanya, teknik ini menggunakan set perangkat pemantauan sistem, data real-time, dan sistem manajemen pemeliharaan infrastruktur IT untuk membantuk organisasi memprediksi secara akurat hal yang dapat menganggu operasional dan hal yang lebih membutuhkan perhatian atau tindakan.

Tanpa interaksi pengguna, teknik ini dapat meng-evaluasi komponen-komponen yang ada pada sitem dan memberikan perintah penjadwalan pemeliharaan terhadap kejadian yang tak terduga sesuai masalahnya.

Misalnya, sistem manajemen pemeliharaan ini diprogram untuk bertindak saat terjadi lag atau kesalahan operasional di luar ambang batas tertentu, maka sistem dapat mengatur pemeliharaan secara otomatis.

Dalam sebuah aktifitas perekonomian dimana setiap menit dapat berarti milyaran, strategi pemeliharaan prediktif harus diselenggarakan sebagai program pendukung data center pada tiap organisasi perusahaan dan instansi pemerintahan.

Data center merupakan (menggunakan) hardware yang komplex dimana masalah yang akan dihadapi tidak dapat terlihat sebelumnya dimana pemeliharaan berbasis kalender tidak lagi dapat mengantisipasi kegagalan sistem. Sebuah strategi prediktif terintegrasi dengan sistem manajemen pemeliharaan tertentu dapat mengurangi resiko downtime yang dapat berakibat gagalnya sistem sebagian atau keseluruhan, bahkan hampir dapat menghilangkan resiko downtime dengan mengenali keseluruhan cara kerja operasional infrastruktur IT data center tersebut secara real-time.

Beberapa Manfaat Strategi Pemeliharaan Terprediksi

  1. Hemat Biaya dan Menurunkan Resiko Intangible Cost

    Pemeliharaan terprediksi memberikan sejumlah manfaat sebagai hasil dari usaha menjaga aktifitas operasional dan layanan bisnis tidak terganggu sedikitpun, mulai dari penghematan biaya yang dikeluarkan maupun intangible cost, sampai memperpanjang umur penggunaan infrastruktur data center sebelum resiko biaya yang ditimbulkan akan lebih besar lagi.

  2. Efektifitas Operasional

    Pendekataan ini membantu perusahaan dan instansi menjalankan aktifitas rutin mereka secara lebih efektif, sehingga faktor biaya yang tidak terlihat juga dapat di cegah secara otomatis serta masalah pemeliharaan tak terduga untuk perangkat penting dapat diselesaikan lebih cepat dan dapat di atur waktu terhadap penjadwalan pemeliharaan tersebut sebelum timbul masalah meningkat ke titik ShutDown.

  3. Mempertahankan Reputasi dan Kredibilitas

    Kepercayaan merupakan faktor penghemat paling penting dalam segala bidang, baik pada perusahaan komersil maupun pada organisasi pemerintahan. Sebab di era ekonomi digital ini seluruh pengguna mengakses melalui perangkat apa saja dan dimana saja mereka berada melalui sambungan jaringan internet, tentunya kegagalan sistem bukanlah suatu hal yang dapat dimaklumkan sehingga dapat dibawa ke ranah hukum jika di sengaja atau mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Demikian pada perusahaan komersial, jangankan kegagalan sistem.. bahkan downtime seperti lagging dalam hitungan puluhan detik dapat menyebabkan pelanggan lari ke pesaing. Meskipun begitu, banyak juga perusahaan yang tidak pernah mengalami mimpi buruk tuntutan hukum walau hal tersebut terjadi. Dan Pendekatan pemeliharaan terprediksi dapat membantu untuk tetap menjaga diri dari masalah tersebut.

  4. Menurunkan Kekhawatiran Sembari Meningkatkan Kinerja Karyawan

    Pemeliharaan terprediksi dan data center merupakan suatu kecocokan alami. Para penyedia jasa managed service yang berpengalaman mengoperasikan data center di tingkatan lebih tinggi tentunya dapat meng-implementasiakan strategi tersebut. Kerjasama dalam satu bagian pada perusahaan jasa managed service dengan operator data center dapat memberikan kemampuan khusus yang dibutuhkan, dimana seluruh profesional yang di kerahkan juga mengantongi sertifikasi yang bervariasi. Sehingga ancaman downtime dapat berubah menjadi sarana pengembangan staff IT perusahaan atau di instansi pemerintahan, sehingga para CIO dapat tidur lebih nyenyak.

Data center dapat dikatakan sebagai sistem teknologi cerdas, yang mana kepengurusannya harus ditangani oleh para profesional yang memahami dan menghargai pendekatan pemeliharaan modern untuk data center sekarang ini.

Setiap detik tanpa strategi pemeliharaan terprediksi dapat menempatkan perusahaan dalam posisi berbahaya baik dari segi keuangan maupun hukum. Mengingat hal ini cukup potensial maka diperlukan pendekatan lanjutan untuk dapat cegah downtime.

Seluruh instansi pemerintahan dan perusahaan harus persiapkan data center cadangan atau drc site sebelum terjadi kondisi ShutDown, atau dengan memakai jasa managed service yang juga disediakan sebagai salah satu layanan satu atap perusahaan data center tersebut.

(some source and credit to : Paul Lachance, DCD March 2016 “How predictive maintenance can eliminate downtime”)

Komentar ditutup.