Meningkatkan Layanan Internet Banking Dengan Fintech App

Meningkatkan Layanan Internet Banking Dengan Fintech App

Persaingan pada sektor jasa keuangan semakin melibatkan teknologi informasi terbaru. Seperti untuk transaksi keuangan individu maupun corporate, layanan internet banking yang semula via website akan menjadi lebih mobile. Sudah saatnya, mobilitas aplikasi perusahaan di tingkatkan, baik untuk sekedar bertahan maupun untuk mendapatkan keunggulan daya saing di pasar.

Peningkatan layanan internet banking dapat di monetasi oleh perbankan. Seperti pada konsep startup fintech yang mengenakan biaya per transaksi, tentunya keuntungan yang akan di raup perbankan dapat berjumlah milyaran hingga ratusan milyar per bulan. Hal ini tentu membutuhkan suatu perencanaan dan strategi yang tepat.

Strategi Transformasi Digital untuk Layanan Internet Banking

Setelah team anda melakukan perencanaan dan bersiap untuk berkomitmen dalam melakukan transformasi digital, maka strategi untuk praktik terbaik pada proses tersebut dapat menjadi faktor penentu kesuksesan transformasi digital di perusahaan anda.

Tujuan dari transformasi digital dapat bermacam-macam, misal untuk perbankan :

  • Menyediakan aplikasi mobile yang ringan, lancar dan mudah di akses untuk informasi dan transaksi perbankan yang lebih aman dan nyaman.
  • Memperluas jangkauan akses layanan perbankan hingga ke pelosok desa.
  • Meningkatkan pendapatan perusahan sembari menghemat biaya operasional dengan lebih menyederhanakan proses dan melakukan otomatisasi terhadap pekerjaan rutin.
  • Mendapatkan umpan balik dari nasabah untuk segera di tindak lanjuti. Anda dapat memberikan halaman “Kirim Saran Anda” pada aplikasi fintech anda. Ini sangat penting, dalam transformasi digital kecepatan memperbaiki kualitas aplikasi dan mengeluarkan inovasi terbaru merupakan faktor penentu keunggulan nilai kopetitif anda di pasar.

Untuk dapat melakukan hal tersebut diatas, perusahaan perlu mempertimbangkan ekosistem digital. Selanjutnya, perusahaan dapat merumuskan arsitektur keamanan dengan konsep terkini. Sebab, serangan cyber semakin meningkat ke lembaga keuangan di seluruh dunia.

Dalam meningkatkan layanan internet banking, perusahaan harus menempatkan sistem keamanan yang terbaik. Dengan memahami trend dan potensi serangan cyber, para pimpinan IT dapat menempatkan teknologi yang tepat untuk menjaga infrastruktur IT perusahaan. Anda dapat menjadikan keamanan aplikasi fintech sebagai prioritas paling atas setelah ekosistem digital.

Ekosistem untuk Transformasi Digital

Fleksibilitas, kecepatan, kemudahan, dan keamanan merupakan 4 pilar penting dalam merumuskan ekosistem digital. Baik untku meningkatkan layanan internet banking maupun untuk hal lainnya.

Dengan menggunakan metode kerja DevOps yang dapat mempercepat produksi fitur-fitur baru pada aplikasi finteh, maka perusahaan akan lebih mudah meraih pangsa pasar. Keamanan dan kelancaran akses merupakan prioritas tertinggi dalam hal customer-centric maupun untuk kebutuhan para staff perbankan.

Otomatisasi dan orkestrasi infrastruktur IT dapat memangkas proses dan menghemat waktu para staff anda. Sehingga efektivitas kinerja staff IT akan semakin meningkat, dan perusahaan semakin dapat melaju cepat melebihi para pesaing.

Pencadangan infrastruktur IT perbankan saat ini sudah mulai bergeser, dari memiliki sarana DRC sendiri menjadi memakai sarana DRC dari pihak ketiga. Tentunya hanya data center yang memiliki toleransi downtime lebih kecil dari data center cadangan anda yang dapat dipilih sebagai outsource disaster revocery center.

Serangan Cyber dan Potensi Kerugian

Seperti serangan ransomware yang mengunci sistem operasional infrastruktur IT anda dan meminta tebusan, serangan semacam ini semakin canggih dan bervariatif. Dimulai dengan serangan DDoS yang dapat meruntuhkan seluruh layanan perbankan, hingga menyusupi sistem dengan malware yang dapat merubah digital signatrue setiap beberapa detik.

Kerugian yang diakibatkan serangan ransomware setahun terakhir ini telah mencapai triliunan rupiah. Kerugian tersebut hanya untuk membyar uang tebusan ke pelaku penyerangan, belum biaya downtime. Besarnya biaya downtime dapat berbeda-beda, tergantung skala perusahaan. Anda harus menentukan biaya downtime per jam dan berapa toleransi downtime yang dapat anda terima.

Oleh karena itu, sebetulya downtime sudah tidak dapat di tolerir. Data center Tier III yang tersertifikasi oleh Uptime Institute (dan masih valid) biasanya belum pernah mengalami downtime. Walaupun ada downtime, data center TIER III hanya di perbolehkan berhenti selama 1.5 jam dalam satu tahun, atau hanya 7.5 menit per bulan.

Dengan biaya (yang biasanya) 1/10 dari potensi kerugian akibat downtime, maka perusahaan anda dapat lebih lancar melakukan transformasi digital. Para pengembang dapat semakin produktif untuk melahirkan inovasi dalam tujuan meningkatkan layanan perbankan anda. Namun, jika anda beranggapan untuk menunggu downtime terlebih dahulu baru mulai mengunakan sarana disaster recovery dari penyedia fasilitas DRC yang berstandar internasional, maka ini sama saja anda menempatkan perusahaan pada kondisi yang dapat menyulitkan.

Biaya downtime per jam berkisar antar milyaran hingga puluhan milyar rupiah. Tanpa fasilitas DRC yang memiliki sertifikasi TIER III dari The Uptime Institute, downtime anda dapat lebih lama dari 1 jam, katakanlah 6 jam hingga 2 hari (berdasarkan studi kasus sepanjang tahun 2017 di Indonesia dan negara lainnya).

konsultan transformasi digital

Silahkan baca juga : Bank Terkena Serangan DDoS, Layanan Terhenti Selama 2 Hari

 

Kesimpulan :

Transformasi digital dapat menghadirkan layanan internet banking yang lebih mudah dan luas jangkauannya. Perusahaan dapat menjadi pemimpin pasar dengan menempatkan ekosistem digital yang dapat mendukung strategi anda. Tantangan serangan cyber dan downtime akan selalu ada dan dapat diatasi dengan outsourcing disaster recovery center pada penyedia data center pihak ketiga yang terpisah dari fisik dan infrastruktur IT anda secara keseluruhan.

Meningkatkan layanan internet banking menggunakan aplikasi fintech memang sudah merupakan suatu kebutuhan. Semakin cepat perusahaan dalam mengadopsi perubahan, maka semakin besar peluang untuk menjadi unggul.