Memilih Situs Disaster Recovery Center Yang Dapat Diandalkan

Memilih Situs Disaster Recovery Center yang dapat Diandalkan

Dalam memilih situs disaster recovery center (DRC) yang dapat diandalkan, perusahaan tidak bisa main sembarang pilih. Yang pertama harus dibedakan adalah tingkat uptime atau ketersediaan layanan. Tingkat uptime ini sangat penting dalam memilih situs disaster recovery center.

Memilih Situs Disaster Recovery Berdasar Tingkat Uptime

Sebuah situs DRC diharapkan untuk tidak memiliki downtime oleh para penggunanya. Tujuan pengguna memakai situs DRC selain untuk memenuhi kepatuhan, sebetulnya secara dasar adalah untuk menjamin kelancaran operasional dan layanan perusahaan itu sendiri. Persyaratan untuk memiliki situs DRC sejatinya ditujukan memang untuk kelancaran operasional dan layanan perusahaan. Terutama untuk perusahaan perbankan dan asuran serta industri jasa keuangan lainnya, situs DRC sudah merupakan kebutuhan dan sekaligus kewajiban dalam menyelenggarakan layanan ke masyarakat umum.

Downtime dapat mengakibatkan perusahaan tidak dapat melakukan transaksi, kepercayaan konsumen menurun dan dapat merusak branding perusahaan. Biaya downtime yang telah di teliti dapat mencapai puluhan milyar dalam periode satu jam saja. Tentunya biaya tersebut tergantung dari skala perusahaan. Untuk perusahaan menengah, satu jam downtime dapat mencapai biaya milyaran rupiah jika terjadi pada jam dan hari kerja.

Sebuah tingkatan uptime biasaya diberi label TIER. Terdapat Tier I hingga Tier IV, dimana Tier IV merupakan tingkat uptime tertinggi walaupun tidak beda jauh dengan Tier III. Dalam memilih situs disaster recovery center, sebaiknya pilih perusahaan yang menyediakan fasilitas data center Tier III. Sebuah fasilitas data center Tier III biasanya hanya memiliki downtime selama 1.5 jam dalam setahun bahkan sama sekali tidak ada downtime.

Tidak Semua Penyedia Data Center Layak untuk DRC

Untuk menjaga salah persepsi, hal ini sangat perlu kami jelaskan. Seperti yang kami jelaskan sebelumnya, bahwa sebuah situs DRC digunakan oleh pengguna dengan harapan untuk dapat menjadi situs cadangan mereka. Ketika terjadi downtime pada pusat data induk perusahaan, maka sistem langsung fail-over ke situs DRC.

Dalam praktiknya, seluruh hasil beban kerja real-time harus selalu dapat di transfer ke situs cadangan. Jika situs DRC tersebut mengalami gangguan atau downtime, tentu tidak dapat diandalkan untuk proses ini. Oleh karena itu, dengan memperhatikan tingkat uptime sebuah situs DRC akan sangat berguna dalam mencegah kesalahan dalam memilih situs disaster recovery center untuk perusahaan anda.

Sebuah fasilitas data center yang layak untuk DRC adalah:

  • Memiliki tingkat uptime diatas 99.99% (minimal TIER III)
  • Memiliki sertifikasi dari Uptime Institute tidak dari pihak lainnya, karena hingga saat ini hanya Uptime
  • Institute yang di akui secara global. Memang banyak sertifkasi lainnya seperti TIA 942 namun, sertifikasi TIA 942 dari www.tia-942.org tidak memiliki legal standing yang jelas. Situs resmi organisasi TIA adalah www.tiaonline.org.
  • Memiliki sertifikasi ISO 27001 untuk manajemen keamanan data center.
  • Memiliki tim personil yang berpengalaman dan tersertifikasi secara internasional, ini untuk memastikan teknologi fail-over yang mereka gunakan dapat diandalkan atau tidak, disamping untuk memastikan layanan dan dukungan ke tim IT anda.
  • Memiliki track record jelas dengan pelanggan yang dapat di konfirmasikan.

Dengan memperhatikan 5 hal tersebut diatas, para CIO dapat terhindar dari kesalahan dalam memilih situs disaster recovery center. Biaya DRC dapat terlihat menjadi besar jika salah dalam memilih situs disaster recovery center. Akan tetapi pada intinya, biaya downtime anda akan lebih besar lagi jika salah dalam memilih situs DRC.

Biaya Disaster Recovery Center

Pada prinsipnya hampir sama dengan biaya sewa ruangan colocation dan investasi infrastruktur IT untuk kebutuhan pencadangan tersebut. Ini akan lebih murah jika dibanding harus membangun sebuah gedung data center sendiri yang dapat menghabiskan ratusan milyar. Dan juga masih lebih murah ketimbang biaya downtime walaupun hanya 1 jam pada hari kerja.

Kita dapat melihat banyak studi kasus perusahaan besar yang harus merogoh kocek hingga ratusan milyar dalam menghadapi downtime. Baik itu pada industri jasa keuangan maupun pada industri penerbangan. Downtime tidak dapat terprediksi karena banyak sekali faktornya, mulai dari pemdaman listrik, kesalahan konfigurasi, serangan cyber yang semakin meningkat, dan sebagainya.

Biaya disaster recovery center untuk perusahaan menengah dapat berkisar Rp. 10 hingga 15 juta per bulan. Tentunya ini jauh lebih murah jika dibandingkan biaya downtime dimana kejadian downtime tidak dapat di prediksi dan anda tidak dapat berspekulasi dengan downtime.

Sebagai contoh, jika sebuah anggota bursa dimana memiliki sistem yang terhubung dengan data center bursa efek mengalami downtime, otomatis transaksi harus di tutup. Seluruh transaksi yang masuk sesaat sebelum downtime harus di rekonsiliasi. Apa yang terjadi jika anda salah dalam memilih situs DRC ?

Tentunya waktu yang diperlukan dalam mengalihkan ke situs cadangan dan waktu yang diperlukan dalam pemulihan (RTO) memiliki peran utama dalam hal ini. Banyak sekali kerugian yang harus di tanggung perusahaan anda jika salah dalam memilih situs disaster recovery center.

Oleh karena itu, para CEO, CFO dan CIO harus duduk bersama untuk mempertimbangkan dalam memilih situs disaster recovery center yang akan mereka pakai. Sebuah situs DRC yang dapat anda andalkan selalu termasuk pada 5 faktor dalam memilih situs disaster revocery center diatas. Semoga bermanfaat..

Komentar ditutup.