Membangun Data Center Modern pada Era Cloud

Konsep Membangun Data Center Modern

Pada era Cloud dan Internet of Things sekarang ini, banyak perusahaan mulai merasakan data center lama mereka banyak menemui kebuntuan dalam meng-akomodir perusahan menghadapi perubahaan perkembangan teknologi informasi saat ini. Hal ini dapat disebabkan jika data center telah menjadi terlalu besar dan terlalu lambat dalam implementasi penghematan biaya, efisiensi serta reponsif terhadap dinamika industri IT

Menghadapi kondisi tersebut, manajemen perusahaan perlu berjuang untuk memenuhi tuntutan perkembangan bisnis yang bertambah dan otomatis harus menambah sumberdaya IT dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan operasional dalam jangka waktu tertentu.

Membangun Data Center Modern Sesuai Perkembangan

Dengan dasar yang kuat, pihak perusahan dapat menggunakan teknologi terbaru untuk meningkatkan performa infrastruktur IT dengan kapasitas lebih besar dan biaya yang lebh ekonomis. Artinya, apa yang dibutuhkan adalah untuk memikirkan ulang mengenai perancangan data center berikut pengelolaan data center.

Setiap proyek pembangunan data center adalah unik, dan harus memiliki anggaran yang dirinci tersendiri. Perencanaan ke depan dan membangun ruang lingkup proyek yang jelas akan meminimalkan resiko perubahan yang memakan biaya tinggi pada proyek pengembangan selanjutnya.

Pada umumnya, biaya pembangunan sebuah silo atau situs data center menghabiiskan sekitar Rp. 21 milyar per 93 mdan jika per 1000 mmaka biaya investasi data center yang dibutuhkan adalah sekitar Rp. 226 milyar bisa lebih dan  bisa kurang. Estimasi tepat biaya pembangunan data center hanya bisa didapat dengan perencanan pembangunan data center yang jelas.

Konsep Pembangunan Data Center Modern

Berikut adalah langkah mendasar untuk membangun sebuah data center yang lebih efisien,mudah dikelola, dan memiliki kemampuan skalabilitas yang dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Konsep Modular

Infrastruktur data center semakin canggih dimana setiap tahun selalu ada teknologi terbaru yang berhasil dibentuk oleh para vendor, dimana terdapat kemungkinan perangkat tersebut sulit untuk di konslidasikan satu sama lain. Beralih ke modular data center design dapat memberikan kesederhaan dan fleksibilitas pada data center perusahaan, sehingga manajemen dapat lebih mengukur kebutuhan penambahan blok bangungan data center dimasa depan.

Konsep Membangun Data Center Modern

Selama bebeberapa tahun, modularisasi telah berkembang dari kontainer kapal 40 feet yang menuh dengan rak pelaratan hinga sekarang dengan solusi rak tunggal yang jauh lebih kecil dan kompak. Misalnya pada Lingkungan Komputasi Virtual (VCE) vBlock adalah data center ter fabrikasi yang berisi rak penuh server, switch jaringan dan perangkat penyimpanan. Namun untuk sebagian perusahaan perangkat tersebut terlalu mahal yakni sekitar Rp. 6.6 Milyar atau lebih. Modular data center tersebut dibangun dengan komponen legacy dari satu atau beberapa vendor secara kompak sehingga membuat pengelolaan secara keseluruhan tidak terlalu kompleks.

Meskipun begitu, blok data center modular dapat ditambah dan dikurangi sesuai kebutuhan, sehingga anda dapat memiliki sumber daya IT on-demand berskala besar dan menghindari pemborosan anggaran pada proyek data center pemerintahan terutama, tentunya ini hanya jika dilakukan dengan strategi perencanaan design modular data center yang benar.

Salah satu pendekatan yang semakin banyak digunakan adalah dengan menggunakan perangkat tunggal untuk mengkonsolidasikan komputasi dan tingkatan penyimpanan. Modul tidak hanya terukur pada permintaan, tapi dapat berinteraksi secara multiplatform dan merampingkan manajemen data center secara keseluruhan dengan sebuah konsol tunggal, para admin data center dapat lebih leluasa bekerja dengan cara ini.

Konsep Konvergensi

Manajer IT di perusahaan telah banyak yang memakai konsep infrastruktur data center terkonvergensi karena konsep ini menggunakan lebih sedikit sumber daya terdedikasi yang otomatis lebih ekonomis dan efisien. Penyimpanan konvergen telah hadir sejak beberapa dekade silam dengan migrasi hardisk dari server ke sistem penyimpanan bersama secara terpusat yang terhubung pada jaringan berkecepatan tinggi. Belakangan ini flash memory telah hadir pada perangkat penyimpanan untuk membentuk solusi penyimpanan hybrid dengn kecepatan 100x lebih cepat dari arstitektur legacy.

Daripada memiliki perangkan khusus untuk komputasi dan penyimpanan, lebih baik menggabungkan fungsi menjadi ke satu perangkat. Data center tersebut kemudian dibangun dengan infrastruktur terpusat yang berisi semua sumber daya server dan penyimpanan yang diperlukan untuk menjalankan aplikasi atau pekerjaan. Hal ini meningkatkan skalabilitas tanpa perlu menghabiskan anggaran lebih banyak untuk membeli perangkat keras tambahan dan perlatan jaringan khusus.

Konsep Software

Era data center tradisional yang memakai hardware khusus telah berakhir karena tidak fleksibel dan portabel, dan banyak tidak mendukung untuk infrastruktur cloud yang banyak diminati saat ini. Pemisahan kecerdasan kebijakan dan logika runtme dari hardware yang didistribusikan memungkinkan untuk pengendalian otomatis secara terpusat. Hal ini memungkinkan admin data center untuk memberikan layanan batu tanpa menambah hardware yang dapat menghemat buaya dan menawarkan klincahan yang lebih dari sebelumnya. Aplikasi terdistribusi dapat meningkatkan uptime, skalabilitas global dan kelangsungan pelanan selama terjadi kegagalan sistem.

Konsep Hardware Yang Tidak Terlalu Mahal

Google mengembangkan sistem mesin pencari dan layanan cloud dengan menggunakan hardware yang tidak mahal dalam mendistribusikan perangkat lunak.
Pendekatan inovatif ini memungkinkan skalabilitas cepat dengan investasi minimum. Perusahaan tradisional telah terjebal dalam siklus upgrade hardware data center yang mahal setiap tiga sampai lima tahun sekali untuk mengganti dengan yang baru dengan perangkat yang lebih mahal lagi. Saat ini, mereka dapat menuai manfaat yang sama dari perangkat keras ramah anggaran seperti yang dilakukan oleh para penyedia cloud. Lapisan perangkat lunak yang didistribusikan ke semua sumber daya di cluster node memberikan kapasitas keseluruhan yang melampaui pendekatan monilitik yang paling kuat. Kuncinya terletak pada software yang mentenagai low-cost hardware tersebut.

Pemberdayaan End User

Konsep membangun data center modern secara tegas harus dapat lebih tangguh dan diandalkan dari sebelumnya. Mulai dari pengelolaan data perusahaan dari cara sebelumnya hinga memenuhi tuntutan perkembangan aplikasi mulai dari infrastruktur virtual desktop (VDI) untuk para karyawan baik di kantor dan mobile. Untuk menghadapi konsumerisasi IT, para admin mulai memberdayai para end user dari sistem desktop ke aplikasi dan data yang terpusat daam data center yang dapat diakses oleh karyawan dengan perangkat apapun dan dari mana saja. Modernisasi data center akan memungkinkan manajer data center untuk lebih bijak mengatasi berbagai tuntutan beban kerja yang selalu ada perubahan seperti dengan menyanggupi untuk mengkonsolidasi layanan virtual dari perusahaan lain dengan sistem infrastruktur data center internal, dalam hal ini identitas lokal dan publik dan memakai sistem federasi identitas.

Merampingkan Silo

Kompleksitas data fungsi data center yang terus meningkat telah menyebabkan pembentukan silo teknologi, dimana masing-masing dikelola oleh tim spesialis. Misalnya, satu tim dalam silo penyimpanan bisa menangani pengelolaan data dan informasi arsip, sementara tim lain mengawasi jaringan, server dan silo virtualisasi. Dengan menggunakan peralatan gabungan berarti tidak perlu lagi tim yang berbebeda spesialis untuk tiap teknologi. Mengintegrasikan teknologi ke dalam satu unit scalable tunggal atau ke satu blok di ruangan data center dapat mengurangi kebutuhan untuk staf ahli.

Konsep Hybrid

Banyak perusahaan yang membutuhkan untuk dapat mengakses layanan public cloud disamping tetap memakai aplikasi bisnis yang utama dimana kerahasiaan dan keamanan data hanya dapat didukung oleh lingkungan private cloud data center. Untuk memenuhi kebutuhan ganda tersebut, korporasi menggunakan sistem cloud hybrid. Layanan cloud public seperti Amazon Web Srvices dan lainnya, menawarkan pemenuhan kebutuhan on-demand dan berbagi sumberdaya kepada para penyewa. Private cloud dapat melakukan hal tersebut akan tetapi perbedaanya adalah mereka tetap berada dibawah pengendalian tim data center dan memungkinkan lebih banyak kontrol keamanan, kinerja dan tingkat layanan, dan dengan konsep hybrid dapat digabungkan dengan lingkungan public cloud. Ini sangat penting untuk data center modern yang dalam hal skalabilitas yang cepat dan untuk pencegahan dan penanganan downtime yang semakin tidak dapat di tolerir pada era ekonomi digital saat ini.

Fokus Pada Kontinuitas Layanan

Strategi mitigasi benacana (disaster revocer) yang di terapkan oleh perusahaan harus cenderung reaktif. Bagaimanapun juga efek konsumeriasasi telah merubah harapan pengguna secara radikal. Jika ada gangguan atau masalah network latency, pengguna dapat lari ke perusahaan penyedia layanan IT dan bisa saja akhirnya menggunakan layanan berbasis cloud yang tidak sah secara kebijakan manajemen data center anda. Untuk menyediakan layanan secara terus menerus dengan tingkatan mendekati 100% dapat di akses terus meneur, para admin harus lebih proaktif dan fokus pada kontinuitas layanan dan tidak hanya pada disaster recovery saja. Ini berarti dalam membangun data center modern harus bertujuan untuk dapat diakses secara terus menerus tanpa gangguan, dimana harus menyediakan bandwidth yang lebih dari cukup, lebih dari satu provider telekomunikasi dan juga mengungai waktu round-trip. Perusahaan juga harus men-desain ulang aplikasi mereka yang akan disebarkan ke beberapa tempat, lokasi, wilayah, negara dimana akan dapat lebih dekat ke pengguna secara global, dan meningkatkan kelancaran akses. Facebook, Amazon dan Google sudah sangat sukes dengan model seperti ini.

Oleh karena itu, peraturan pemerintah nomir 82 Tahun 2012 seputar colocation server di Indonesia seharusnya dapat diartikan secara positif dari sisi kebaikan bisnis para perusahaan yang memiliki banyak pelanggan di Indonesia, namun untuk penegakan peraturan ini memang memerlukan konsistensi dari pihak pemerintah karena jika para perusahaan masih dapat melihat bahwa instansi pemerintah masih ada yang menempatkan server mereka di data center Singapore maka tentu mereka akan ragu terhadap peraturan yang di tetapkan oleh pemerintah tersebut.

Komentar ditutup.