Keuntungan Menggunakan Layanan Disaster Recovery as a Services

Layanan Disaster Recovery Berbasis Cloud

Banyak bisnis yang mengandalkan layanan Disaster Recovery as a Services (DRaaS) untuk mencegah kelumpuhan sistem dan menangani bencana yang dapat menyebabkan gangguan operasional bisnis. Gangguan pada infrastruktur IT dapat berbiaya mahal setiap menitnya. Sayangnya, layanan Disaster Recovery biayanya sangat tinggi atau kurang terjamin mengenai jumlah data yang hilang dan waktu yang dibutuhkan untuk me-restart operasi setelah kegagalan. Namun, dengan cloud computing dan virtualisasi sejumlah peluang terbuka. Banyak perusahaan besar yang modern menemukan bahwa banyak aplikasi menjadi as a services. Sehingga kini tidak ada hambatan lagi dalam menggunakan layanan Disaster Recovery.

Layanan Disaster Recovery as a Services

Layanan Disater Recovery untuk Atasi DowntimeHal ini mengakibatkan kemunculan model baru dalam layanan Disaster Recovery. Layanan terbaru tersebut bernama Disaster Recovery as a Services (DRaaS) atau layanan DR pada cloud atau DR on demand. Layanan DRaaS semakin populer di banyak perusahaan terutama pada model pembayaran pay-as-you-go. Model pembayaran cloud tersebut dapat menurunkan biaya, dan penggunaan platform otomatis yang dapat meminimalkan waktu pemulihan setelah kegagalan. Bahkan untuk skala enterprise DRaaS atau Dedicated DRaaS, failover hanya dalam hitungan detik!. Tentu hal ini lebih dapat mendukung operasional bisnis anda menjadi tanpa henti dan semakin lancar.

Platform virtualisasi cloud sangat cocok digunakan pada layanan Disaster Recovery. Dalam kondisi normal, layanan Disaster Recovery berbasis cloud hanya mungkin perlu sumber daya sedikit untuk menyinkronkan status dari situs utama ke Cloud. Jumlah seluruh sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan aplikasi hanya perlu ditetapkan (dan dibayar) jika bencana benar-benar terjadi. Penggunaan platform virtualisasi otomatis untuk pemulihan bencana berarti bahwa sumber daya tambahan dapat dengan cepat dipulihkan atau online setelah bencana terdeteksi. Hal ini secara dramatis dapat mengurangi waktu pemulihan setelah kegagalan yang merupakan komponen penting dalam kelangsungan bisnis perusahaan.

Kunci Efektifitas Layanan Disaster Recovery

Disaster Recovery Sebagai Solusi Mengatasi Downtime

Disaster Recovery Sebagai Solusi Mengatasi Downtime ~ www.elitery.com

Layanan Disaster Recovery yang efektif, mungkin didasarkan pada keputusan bisnis seperti biaya downtime sistem atau kehilangan data, sementara yang lain dapat langsung terkait dengan kinerja aplikasi dan akurasi.

  • Recovery Point Objective (RPO). Jumlah toleransi data hilang yang merepresentasikan sistem pemulihan bencana terhadap prioritas pencadangan terhadap segala kerusakan / kejadian downtime.
  • Recovery Time Objective (RTO). Jumlah waktu kelumpuhan sitem yang dapat di toleransi. Termasuk waktu yang dibutuhkan dalam mendeteksi kerusakan, penyiapan server backup, inisialisasi aplikasi yang bermasalah, dan untuk konfigurasi ulang jaringan dari situs utama ke situs cadangan. Semakin rendah RTO, maka semakin bagus kontinuitas bisnis, sehingga operasional dapat terjmain lancar walau ada masalah.
  • Kinerja. Dalam kondisi normal dan pemulihan, sebuah layanan pemulihan bencana harus meminimalkan dampak terhadap kinerja setiap aplikasi yang di jaga untuk misi kritis.
  • Konsistensi. Akurasi dari data aplikasi dan outpot. Layanan disaster recovery harus dapat menjamin bahwa setelah terjadi kegagalan, aplikasi dapat di pulihkan ulang dan berjalan stabil seperti pada kondisi normal.
  • Pemisahan Geografis. Situs pemulihan bencana tidak boleh di lokasi yang sama-sama dapat terkena dampak bencana. Misal, data center utama untuk Operasional anda di Jakarta, jika terjadi gempa, sebaiknya memiliki data center cadangan di Bogor bukan ?

Tipe Layanan Disaster Recovery

Tingkat perlindungan data dan kecepatan pemulihan bencana tergantung pada jenis mekanisme cadangan yang digunakan dan sifat sumber daya yang tersedia di situs cadangan. Secara umum, jasa mitigasi bencana ini jatuh di bawah salah satu kategori berikut:

  • Situs Hot-Backup: Sebuah situs cadangan panas biasanya menyediakan satu set cermin stand-by server yang selalu tersedia untuk menjalankan aplikasi setelah bencana terjadi, menyediakan minimal Recovery Point Objective (RPO) dan Recovery Time Objective (RTO). Hot standby biasanya menggunakan replikasi sinkron untuk mencegah kehilangan data akibat bencana.
  • Situs Warm-Backup: Menjaga status up-to-date baik dengan skema replikasi sinkron atau asynchronous tergantung pada RPO yang diperlukan. Server siap siaga untuk menjalankan aplikasi setelah kegagalan terjadi. Tetapi ini hanya menyimpan dalam keadaan “hangat” di mana mungkin membutuhkan hitungan menit untuk memulihkan operasional secara online. Biasanya yang seperti sekitar 15 menit.
  • Situs Cold-Backup: Dalam sebuah situs cadangan dingin, data sering hanya direplikasi secara periodik, yang mengarah ke RPO jam atau hari. Selain itu, server untuk menjalankan aplikasi setelah kegagalan tidak tersedia. Dan mungkin ada penundaan jam atau hari karena biasanya perangkat keras sedang di gunakan untuk kebutuhan penyimpanan lainnya atau untuk pengujian dan pengembangan sistem. Hal tersebut dapat mengakibatkan RTO yang cukup tinggi. Ini dapat mempersulit dalam mendukung kelangsungan bisnis dengan situs cadangan dingin, tetapi mereka adalah pilihan biaya yang sangat rendah untuk aplikasi yang tidak memerlukan perlindungan atau jaminan ketersediaan yang kuat.

Layanan Disaster Recovery Berbasis Cloud

Sifat on-demand dalam komputasi awan berarti bahwa dapat menyediakan manfaat biaya terbesar ketika tuntutan sumber daya puncak yang lebih tinggi dari tuntutan kasus rata-rata. Ini berarti bahwa platform cloud dapat memberikan manfaat terbesar untuk layanan disaster recovery yang membutuhkan replika hot-stand-by. Dalam hal ini, basis cloud dapat digunakan dengan murah dalam mempertahankan keadaan aplikasi yang menggunakan sumber biaya rendah di bawah kondisi operasi biasa.

Hanya saja, setelah bencana terjadi, layanan pemulihan bencana berbasis cloud akan memerlukan biaya yang lebih mahal terhadap sumber daya yang dibutuhkan untuk menjalankan aplikasi secara lengkap. Sumber daya tersebut dapat ditetapkan dalam hitungan detik atau menit. Sebaliknya, perusahaan yang menggunakan sumber daya DR pribadi atau Dedicated Disaster Recover, harus selalu memiliki server yang tersedia dalam memenuhi kebutuhan sumber daya dari kasus downtime dan bencana, tentu biayanya lebih tinggi selama operasi normal. Semua tergantung kebutuhan RPO dan RTO serta skala dan jenis bisnis.

Layanan Disaster Recovery as a (Cloud) Services

Jika membicarakan cloud DR, kebutuhan akan ruangan data center dan investasi perangkat keras tentu hilang. Namun dalam beberapa kasus, Cloud DR akan menjadi lebih mahal di masa depan ketimbang Dedicated DR seperti yang dijelaskan diatas.

Meskipun konsep – dan beberapa produk serta jasa pemulihan bencana berbasis cloud (DRaaS) masih baru lahir. Biasanya, perusahaan dan organisasi terutama yang lebih kecil, yang menemukan dan mulai memanfaatkan layanan cloud untuk DR. Layanan DR berbasis Cloud dapat menjadi alternatif menarik bagi perusahaan yang kekurangan sumber daya TI karena terbentur biaya. Layanan cloud cocok untuk DR dimana infrastruktur sekunder di parkir dalam sebagian besar waktu. Memiliki situs DR di awan mengurangi kebutuhan ruang data center, infrastruktur TI dan sumber daya TI, yang mengarah ke pengurangan investasi yang signifikan. Tentu hal ini memungkinkan perusahaan kecil untuk menyebarkan opsi pemulihan bencana yang sebelumnya hanya ditemukan di perusahaan-perusahaan yang lebih besar.

Merancang Cetak Biru untuk DR Berbasis Cloud

Sama seperti dengan layanan Disaster Recovery terdahulu, tidak ada cetak biru tunggal untuk pemulihan bencana berbasis cloud. Setiap perusahaan adalah unik dimana aplikasi tersebut berjalan, dan relevansi aplikasi untuk bisnis dan industri tersebut. Oleh karena itu, rencana pemulihan bencana di awan (cloud DRaaS) akan sangat berbeda dan unik untuk setiap organisasi.

Perusahaan dapat mengadopsi prinsip menyeluruh yang digunakan dalam membuat DR tradisional serta rencana DR berbasis cloud. Proses merancang rencana DR dimulai dengan mengidentifikasi dan memprioritaskan aplikasi, layanan dan data, dan menentukan untuk masing-masing jumlah downtime yang diterima sebelum ada dampak bisnis yang signifikan. Prioritas dan tujuan waktu pemulihan yang dibutuhkan (RTO) dapat menentukan pendekatan pemulihan bencana.

Mengidentifikasi sumber daya kritis dan metode pemulihan adalah aspek yang paling relevan selama proses ini, karena sebuah organisasi perlu memastikan bahwa semua aplikasi kritis dan data termasuk dalam cetak biru tersebut. Dengan aplikasi yang di identifikasi dan diprioritaskan, dan RTO didefinisikan, organisasi kemudian dapat menentukan metode paling hemat dan pencapaian RTO (oleh aplikasi dan layanan) terbaik. Sebuah kombinasi dari biaya dan pemulihan bertujuan mendorong berbagai tingkat pemulihan bencana.

Be the first to comment on "Keuntungan Menggunakan Layanan Disaster Recovery as a Services"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*