Perkembangan dan Kebutuhan Data Center Indonesia di Tahun 2016

Perkembangan dan Kebutuhan Data Center Indonesia di Tahun 2016Perkembangan dan Kebutuhan Industri Data Center Indonesia di 2016

Kebutuhan data center di dorong oleh banyaknya penggunaan cloud computing yang menyebabkan penggunaan smartphone dan tablet serta perangkat dan sensor yang terhubung ke internet, dan semakin banyak data yang dibuat. Mulai dari fasilitas data center terbesar seperti untuk mendukung layanan Facebook, Google dan Amazon sampai fasilitas colocation yang menyimpan aplikasi bisnis oleh para perusahaan di seluruh dunia. Dalam ukuran tersebut dibutuhkan lebih dari 9 hektar untuk sekedar menempatkan beberapa rack server.

Perkembangan Kebutuhan Data Center di Tahun 2016 Akan Meningkat Drastis

Perkembangan dan Kebutuhan Data Center Indonesia di Tahun 2016Sebuah riset memprediksi bahwa di tahun 2020 akan ada sekitar 50 miliar perangkat yang terhubung ke internet dan cloud service yang mana hal ini akan menjadi sebagian besar dari belanja TIK di tahun 2016 ini. Datacenter sebagai tulang punggung aktivitas online dituntut untuk dapat lebih menyediakan listrik, penyimpanan/cadangan dan pengolahan yang diperlukan untuk “bahan bakar dunia digital”.

Cisco melaporkan bahwa sejak tahun 2008 sebagian besar lalulintas internet berasal dari datacenter dan berhenti di datacenter, dan kedepannya traffic internet akan terus didominasi di datacenter, namun dengan perkembangan yang ada bahwa traffic data center sedang mengalami transisi mendasar ke arah layanan cloud computing dan perubahan model infrastruktur baik fisik maupun sebagai layanan.

Ketika aktivitas online bertambah maka akan ada persyaratan untuk data center dimana dapat dibuat standarisasi untuk para penyedia fasilitas data center Indonesia. Menurut Indeks Komputasi Awan Cisco, lalu lintas global IP data center akan mencapai 8.6 zettabytes (ZB) pada akhir tahun 2018, meningkat dari 3.1 ZB per tahun di 2013. Traffic data center akan mencapai tingkat pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 23% dari 2013 ke tahun 2018.

Sebelum kita terlalu jauh meprediksi kebutuhan dan perkembangan data center di tahun 2016 ini, mari kita lihat apa yang telah diprediksi ditahun 2015 kemarin.

Perkembangan Data Center Sebelumnya

Seperti yang diungkapkan diatas, tren besar yang mempengaruhi data center adalah komputasi awan (cloud computing) yang mana di tahun 2015 belum ada tanda perlambatan adopsi teknologi cloud computing. Beberapa laporan seperti dari Forum Industri Cloud di Inggris menyatakan bahwa 84% perusahaan di Inggris telah mengadopsi komputasi awan dalam beberapa bentuk, dan ini berarti lebih banyak lalulintas data melalui data center.

IoT merupakan topik lain yang diharapkan berdampak secara dramatis pada data center di tahun 2015, Gartner memprediksi bahwa tahun 2015 akan ada 4.9 miliar perangkat yang terhubung ke internet (Internet of Things) dan ini menandakan era big data dimana seluruh pengolahan akan berpusat di data center, disini dapat kita lihat seberapa besar kebutuhan data center akan meningkat di tahun 2016 ini.

Adapun membangun sendiri data center fisik merupakan salah satu tren yang sudah diprediksi di tahun 2015 dimana data center akan lebih ter-otomatisasi, tervirtualisasi (Software Defined Datacenter). Ini merupakan permainan intelejensi sistem dimana penyimpanan atau jaringan dipindahkan dari hardware ke software, dalam hal ini router dan switch menjadi lebih murah, dan jauh lebih baik dalam hal biaya operasional serta fleksibilitas.

Perubahan dan Perkembangan Data Center Saat Ini

Di tahun 2016 ini sudah mulai terlihat perubahan tren data center ke arah desain modular dengan komponen yang sudah di set sebelumnya sehingga memungkinkan untuk dipasang secara cepat untuk memenuhi kecepatan dalam memenuhi kebutuhan data center terhadap skalabilitas.

Penggunaan cloud services akan terus meningkat jika semakin banyak perangkat IoT sehingga trend desain modular pada data center akan terus berlanjut sepanjang tahun 2016, dan di Indonesia para vendor seperti Fujitsu, Huawei, Schneider Electric sudah mulai “merapat” ke para pemain data center di Indonesia dalam hal modular data center ataupun edge data center.

Yang tidak kalah menariknya adalah isu kemanan telah menjadi tren besar, seperti Edward Snowden yang memulai sepak terjangnya di tahun 2013 menyebabkan banyak perusahaan data center mengevaluasi kembali keamanan IT mereka. Tren keamanan ini sudah muncul dengan konsep Zero Trust dan Enkripsi pada data center sehingga dapat kita lihat bahwa keamanan data center terus berkembang sebagai kewajiban untuk menjamin keamanan data para pelangganya selain kelancaran aksesibilitas dengan pemeliharaan data center secara berkala.

Karena semakin banyak data yang dibuat, disimpan, diakses serta dianalisa, hal ini menuntut data center untuk dapat memenuhi kebutuhan tersebut secara lebih fleksibel-baik dari sisi storage maupun tenaga listrik agar supaya dapat terus maju dan bersaing dengan cara memberikan optimalisasi. Hal ini dapat diatasi oleh para data center dengan memberikan layanan infrastruktur sesuai kebutuhan atau Infrastructure as a Service (IaaS).

Menghadapi kebutuhan data center yang akan meningkat secara drasit, para perusahaan penyedia fasilitas data center dituntut untuk mampu mencukup kebutuhan akan peningkatan data tanpa meningkatkan biaya atau berdampak negatif pada lingkungan dengan menggunakan teknik pendinginan alami. Oleh karena itu di Indonesia sebaiknya data center di dirikan di lokasi yang sejuk seperti di Bogor sebagaimana seperti yang diperhitungkan oleh Elitery sebagai penyedia data center Indonesia dan disaster recovery center yang berlokasi di Bogor.

Data center kedepannya akan melakukan virtualisasi server, jaringan, penyimpanan serta aplikasi yang ditarik secara bersama kedalam satu platform terotomatisasi. Ini secara keseluruhan akan memberikan optimalisasi infrastruktur, menghemat biaya operasional, dan menurunkan jejak karbon di udara sehingga lebih ramah lingkungan. Oleh karena itu sebuah Green Data Center bukan hanya menggunakan pembangkin listrik non BBM akan tetapi juga harus dapat meng-optimalkan alokasi kinerja perangkat keberbagai layanan dan pelanggan.

Sehingga untuk kebutuhan data center pemerintah sebetulnya dapat dibuatkan satu data center besar saja, dan untuk di tiap departemen atau kantor pemerintahan daerah dapat diberikan modular data center atau edge data center untuk memenuhi kebutuhan data center in-house yang lebih mudah ditetapkan standarisasinya dan konektivitas ke data center utama pemerintah dapat dilakkan secara virtualisasi.

Tren perkembangan data center ini sebetulnya sudah cukup terlihat di pertengahan tahun 2016, oleh karena itu sangat penting bagi para CIO untuk dapat merubah strategi secepatnya dalam menghadapi perubahan ini karena kebutuhan data center untuk para perusahaan besar pun akan meningkat drastis dimana akses layanan ke publik terus di tuntut untuk dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja yakni dengan perangkat mobile dan IoT.

Komentar ditutup.