Kebutuhan Colocation Server Semakin Meningkat di 2017

Teknologi informasi semakin berkembang dengan hadirnya IoT (Internet of Things) bahkan hingga Internet of Everything yang membuat seluruh benda dapat berkomunikasi secara digital. Sektor keuangan dengan blockchain dan Fintech yang semakin cepat di adopsi oleh semu orang, juga membuat kebutuhan colocation server akan semakin meningkat di tahun 2017 ini.

Seluruh aktivitas tersebut, akan menghasilkan lebih banyak data dari sebelumnya. Jika sebelumnya kita mendengar ukuran terra byte, maka kedepannya kita akan mengenal ukuran zetta byte (1 milyar terra byte). Tentu hal ini akan mendorong penggunaan penyimpanan di server.

Meningkatnya Kebutuhan Colocation Server di Indonesia

Kebutuhan colocation server di Indonesia belakangan ini semakin meningkat. Indonesia berada pada level stand-out dalam digitalisasi, dan ini terus bergerak seiring dengan adopsi perkembangan teknologi dan dukungan kebijakan pemerintah.

Banyak perusahaan di Indonesia di tahun 2017 ini yang sedang melakukan transformasi digital (digitalisasi bisnis). Munculnya perusahaan startup merupakan penanda paling akurat terhadap kebutuhan colocation server di Indonesia.

Memang para perusahaan startup pada awalnya akan memakai cloud dari data center di negara lain seperti AWS, Azure, dan Google Compute Engine, akan tetapi jika mereka telah stabil secara bisnis dan keuangan maka mereka akan berpindah pada data center yang berada di Indonesia.

Masalah network latency merupakan faktor paling kritis dalam era transformasi digital. Perusahaan yang sudah melaksanakan transformasi digital lebih dulu sudah mulai memikirkan hal ini. Perjalanan data yang jauh dapat menyebabkan hilangnya nilai kompetitif di pasar. Dimana era millenial sekarang ini semakin membutuhkan kecepatan, beda beberapa detik maka mereka akan berpindah ke penyedia aplikasi lain. Oleh karena itu banyak perusahaan multinasional yang menerapkan “Edge Data Center”, artinya dengan menggunakan colocation server di wilayah dimana banyak pengguna aplikasi mereka berada.

Sebagai contoh, ketika anda mengakses aplikasi layanan perbankan fintech melalui mobile phone, anda mengalami akses yang lambat dalam waktu kurang dari 1 menit, tentunya dengan mudahnya anda dapat menggunakan aplikasi fintech lainnya untuk melakukan transaksi. Aplikasi fintech kedepannya akan digunakan untuk pembayaran dalam satu antrian, baik di restoran, bioskop dan sebagainya. Tentunya network latency akan menjadi isu penting dalam perkembangan era fintech sekarang ini.

IoT akan semakin banyak digunakan oleh industri pertambangan seperti perusahaan minyak dan gas, perusahaan manufaktur, perabotan rumah tangga dan sebagainya. Era big data akan muncul dengan banyaknya perangkat yang dapat berkomunikasi. Data tersebut dapat di analisa untuk kepentingan bisnis maupun kepentingan lainnya.

Keseluruhan aktivitas di atas akan bermuara pada sebuah data center fisik. Hal ini yang mendorong kebutuhan colocation server akan semakin meningkat, selain meningkatnya ancaman cyber.

statistik kebutuhan colocation server

Kebutuhan colocation server di dunia akan mencapai hingga Rp. 678 triliun per tahun di tahun 2020 hingga 2022 (sumber: https://www.marketresearchfuture.com/reports/data-colocation-market).

Ancaman Serangan Cyber dan Disaster Recovery

Ancaman serangan cyber juga akan mendorong para pelaku bisnis untuk terus meningkatkan keamanan data dan aplikasi kritis mereka. Serangan cyber dapat melumpuhkan operasional bisnis. Sebagai contoh, sebuah bank di London, Inggris, mengalami kelumpuhan layanan setelah terkena sedangan mirai bot-net selama 2 hari.

Secara umum, perusahaan perbankan akan memiliki data center dan fasilitas disaster recovery center mereka sendiri. Akan tetapi dari kejadian yang di alami oleh LLoyd’s Bank di London tersebut, kita dapat pahami bahwa tidak ada yang kebal terhadap downtime.

Downtime dalam 1 menit dapat menyebabkan milyaran kesempatan hilang pada sebuah bisnis. Nilai kerugian bisnis akibat downtime akan bergantung pada masing-masing skala bisnis. Untuk bisnis dengan omset trilunan per tahun, 1 jam downtime dapat merogoh kocek lebih dari Rp. 1 milyar.

Monitoring dan firewall merupakan hal penting dalam menangkal serangan cyber. Namun disaat bagian IT perusahaan menangani serangan cyber, downtime tidak dapat dibiarkan. Untuk memperkecil downtime, perusahaan dapat memakai sarana colocation disaster recovery. Artinya, operasional bisnis dialihkan sementara ke situs data center cadangan.

Tentunya hal tersebut semakin menambah tingkat kebutuhan colocation server di seluruh dunia. Dan makin banyak perusahaan di Indonesia yang semakin sadar pentingnya penggunaan situs data center cadangan dalam era ekonomi digital sekrang ini.

Ketergantungan perusahaan terhadap teknologi cloud, tidak dapat dibenarkan sepenuhnya berdasar pengalaman. Seperti pada kejadian kelumpuhan data center AWS beberapa waktu yang lalu, tentu hal ini membuka persepsi baru terhadap keandalan cloud. Banyak para praktisi menyarankan untuk meng-hybrid-kan data center.

Dengan orkestrasi infrastruktur data center, perusahaan dapat menggabungkan data center fisik dengan cloud data center. Dan ini akan memberikan tingkat keandalan yang lebih tinggi terhadap downtime, selain meningkatkan kebutuhan terhadap sarana colocation server.

Untuk mencadangkan aplikasi dan data penting, bagi perusahaan menengah akan membutuhkan 1 hingga 10 rack server. Biaya colocation server untuk 1 rack penuh sekitar Rp. 10 juta per bulan atau Rp. 100 juta per tahun. Tentunya biaya ini akan jauh lebih murah ketimbang anda harus menunggu terjadi downtime yang dalam 1 jam saja dapat merugikan anda milyaran rupiah.

Keasadaran C-Level

Dalam era transformasi digital ini, kesadaran C-level terhadap downtime dan sarana disaster recovery center juga semakin meningkat. Hal ini menumbuhkan pasar terhadap kebutuhan colocation server.

Transformasi digital membutuhkan lingkungan kerja DevOps, jika tidak akan sering menimbulkan downtime yang mengganggu operasional bisnis. Perluasan pemasaran dan penggunaan dengan sistem API juga mendatangkan masalah keamanan tersendiri.

Para IT Head atau Chief Information Officer telah bekerja keras selama beberapa tahun terakhir untuk meyakinkan para CFO (Chief Financial Officer) terhadap anggaran kebutuhan colocation server sebagai sarana cadangan infrastruktur operasional IT mereka.

Para CFO juga telah menyadari bahwa downtime akan memperbesar biaya tak terduga mereka. Dan untuk memperkecil pos biaya tersebut, para bagian keuangan telah menyadari pentingnya sarana disaster recovery center.

Baik untuk mempertahankan bisnis ataupun untuk mendapatkan keunggulan daya saing, mau tidak mau seluruh bisnis harus melakukan transformasi digital dengan terus menerus mengeluarkan inovasi-inovasi yang dapat memudahkan pelanggan dan menghemat operasional sebanyak mungkin.