Kenapa Dropbox Pindah Dari Layanan Cloud AWS ke Colocation

Kenapa Dropbox Pindah Dari Layanan Cloud AWS ke Colocation

Pada pertengahan Maret 2016, Dropbox memindahkan sebagian infrastruktur bisnis mereka dari layanan cloud AWS ke colocation data center. Terutama untuk sistem dan perangkat server penyimpanan yang tersebar di beberapa data center di Amerika Serikat.

Sebetulnya Dropbox berencana berpindah dari layanan cloud AWS ke colocation server pada bulan Oktober 2016. Setelah delapan tahun mereka memakai layanan cloud AWS, akhirnya Dropbox memutuskan untuk membawa kembali sistem mereka ke colocation server. Perubahan ini diumumkan sebulan setelah Netflix, perusahaan layanan tontonan film berbasis cloud yang sangat sukses, memutuskan hal yang sama.

Lantas, apa sebenarnya alasan Dropbox berpindah dari layanan cloud AWS ke colocation data center ?

Seperti yang kita ketahui, bahwa layanan cloud AWS sangat memudahkan perusahaan terutama perusahaan startup dari sisi investasi infrastruktur. Dengan biaya yang berbanding lurus berdasar spesifikasi yang diambil, tentunya pada skala tertentu dapat lebih mahal ketimbang biaya colocation server.

Dropbox menemukan bahwa dengan jumlah data 500 peta byte, akan lebih strategis jika mereka menggunakan sistem sendiri. Dalam jangka panjang, mereka akan lebih mampu menarik para ahli IT dan membuat lingkungan kerja yang dapat lebih memberikan semangat pada para karyawan mereka. Dilain sisi, secara teknis para ahli IT mereka akan lebih leluasa dalam memberikan peningkatan dan mengembangkan layanan DropBox. Ketiga hal tersebut merupakan alasan utama yang mendasari perpindahan ini.

Dropbox tidak 100% meninggalkan layanan cloud AWS, masih ada beberapa layanan yang masih mereka pakai. Karena sifat layanan cloud yang didasarkan skala, pada titik tertentu masih memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Perpindahan ini merupakan strategi yang dikeluarkan Dropbox melalui keputusan kepala infrastruktur mereka (Akhil Gupta).

Pada dasarnya terdapat dua alasan utama dalam memutuskan untuk berpindah ke colocation data center dari sebuah layanan cloud seperti AWS.

Alasan Teknis

Gupta ingin memiliki kontrol infrastruktur end-to-end sehingga ia bisa mengontrol kinerja, kehandalan dan pengalaman pengguna secara keseluruhan. Dengan mengoptimalkan stack dan menyesuaikan infrastruktur untuk kasus penggunaan di perusahaan, Dropbox mampu memberikan pembeda utama di pasar dan memberikan nilai kunci untuk pengguna layanan yang berjumlah sekitar 500 juta pengguna.

Tidak setiap perusahaan memiliki skala sperti operasional Dropbox beroperasi. Ada baiknya bagi perusahaan untuk melihat keuntungan besar dari menyesuaikan infrastruktur terhadap kebutuhan mereka. Perjalanan dua setengah tahun yang ditempuh Dropbox memerlukan investasi personil untuk mengetahui bagaimana infrastruktur harus disesuaikan untuk mengelola hybrid data center mereka.

Alasan Ekonomis

Dropbox berasumsi bahwa kebutuhan akan kapasitas penyimpanan akan terus tumbuh. Sehingga, dengan menggunakan server fisik yang di colocation pada beberapa data center akan memberikan peningkatan layanan melalui keleluasaan lingkungan IT. Secara umum, dari sisi ekonomis dapat kita pahami bahwa produk layanan cloud memiliki harga yang sudah di ambil untung oleh penyedianya. Ini sama saja dengan colocation data center, hanya saja bedanya dari sisi kebutuhan server fisik anda tidak dikenakan keuntungan berlipat-lipat setiap waktunya. Dari sini dapat kita pahami bahwa sebetulnya dalam jangka panjang, colocation server akan lebih ekonomis jika kebutuhan IT perusahaan terus meningkat. Sedangkan layanan cloud akan lebih ekonomis sebelum kebutuhan IT meningkat.

Jika menimbang biaya per gigabyte setiap unit RAM, storage, CPU dan bandwidth, sebenarnya akan lebih mahal jika menggunakan layanan cloud. Ini merupakan alasan ekonomis yang paling sering menjadi dasar untuk berpindah kembali ke colocation server.  Disamping itu, biaya untuk pengujian software pada layanan cloud dapat mengakibatkan biaya tak terduga.  Sebetulnya dari sisi ekonomis, ini sangat bergantung pada pengelolaan infrastruktur hybrid.

Kesimpulan:

Hybrid Data Center merupakan pilihan yang terbaik saat ini, dengan menggabungkan infrastruktur server fisik pada colocation center dan penggunaan cloud sesuai kebutuhan strategis. Perusahaan dapat menggunakan layanan cloud untuk menopang kebutuhan infrastruktur pada colocation data center berdasar pertimbangan teknis dan ekonomis sesuai kebutuhan saat ini dan masa depan. Hal ini akan membentuk tantangan baru bagi para penyedia layanan data center Indonesia, khususnya untuk para member IDPRO.

Komentar ditutup.