DRaaS Sebagai Syarat Kepatuhan Perbankan Untuk BPR dan BPD

DRaaS sebagai syarat kepatuhan perbankan
DRaaS sebagai syarat kepatuhan perbankan

Baik Bank Perkreditan Raykat dan Bank Pembangunan Daerah, melalui peraturan Bank Indonesia No: 9/15/PBI/2007 tentang kewajiban untuk mitigasi risiko dan memiliki fasilitas disaster recovery, sebelumnya sulit untuk dipenuhi bagi perbankan menengah. Namun bagaimanapun juga, syarat kepatuhan perbankan ini tetap menjadi kewajiban BPR dan BPD.

Teknologi cloud memberikan solusi untuk perusahaan skala menengah dalam memiliki Disaster Recovery. Layanan Disaster Recovery as a Services (DRaaS) memberikan solusi total untuk mitigasi bencana. Sehingga, jika terjadi gangguan di BPR dan BPD, operasional dapat berjalan sementara pada situs DRaaS.

Menemukan Solusi untuk Syarat Kepatuhan Perbankan

Disaster recovery dulu merupakan “produk mewah” dan hanya bisa “dinikmati” oleh perusahaan besar. Pembangunan data center cadangan dan investasi perangkat membutuhkan dana puluhan bahkan ratusan milyar (USD 20.000 per square feet meter).

Dengan adanya layanan DRaaS, perusahaan skala menengah kini dapat menikmati “fasilitas mewah” tersebut. Dimana situs cadangan dapat berfungsi untuk mitigasi downtime operasional dan layanan perbankan.

DRaaS pada dasarnya berjalan pada sebuah data center yang beroperasi 24 jam non-stop. Ketersediaan layanan dari data center penyedia DRaaS merupakan faktor utama dalam menggunakan layanan DRaaS.

Data center cadangan sebagai syarat kepatuhan perbankan dapat berfungsi untuk menyimpan data secara aman. Penyedia DRaaS ada yang sudah tersertifikasi oleh ISO 27001 maupun PCI DSS. Dalam hal ini tingkat keamanan pada data center penyedia DRaaS harus selalu lebih tinggi dari perusahaan lain pada umumnya. Sehingga, layanan DRaaS dapat selalu di andalkan ketika terjadi downtime.

Mengunakan disaster recovery memang merupakan syarat kepatuhan perbankan. Akan tetapi, secara teknis, pencadangan sistem terbaik adalah dengan memiliki pencadangan diluar sistem dan manajemen itu sendiri. Dengan demikian, Disaster Recover as a Solutions (DRaaS) dapat menjawab kebutuhan untuk memenuhi syarat kepatuhan perbankan.

Biaya Downtime v.s Biaya Cloud Disaster Recovery

Downtime dapat terjadi baik karena perawatan (downtime terjadwal) maupun tak terduga. Seperti pada bencana alam di Lombok dan Poso baru-baru ini. Perbankan yang memiliki sarana disaster recovery tentunya dapat lebih cepat pulih dan beroperasi.

Saat ini, biaya rata-rata downtime adalah sekitar Rp. 1.5 milyar per jam. Jika perbankan mengalami downtime selama satu bulan atau 200 jam kerja, maka kerugiannya cukup besar.

Bencana alam hanya menempati porsi kecil dari kejadian downtime. Era serangan cyber ransomware dan 7 layer DDoS juga dapat sebabkan downtime. Perkembangan ini semakin mendorong perbankan untuk menggunakan solusi Disaster Recovery secepatnya. Karena, sekali terkena downtime, biaya yang dikeluarkan cukup tinggi.

Selain itu, downtime dapat berakibat pada turunnya kinerja karyawan. Semakin sering downtime, semakin menurun kepercayaan diri karyawan dalam melaksanakan tugas sehari-hari. Kerugian tersebut memang intangible, akan tetapi hal tersebut sebaiknya di cegah.

Sedangkan biaya cloud DRaaS sangat murah. Baik jika dibandingkan dengan harus membangun disaster recovery sendiri, maupun jika dibandingkan dengan 1 jam downtime. Bahkan, biaya 1 jam downtime mungkin dapat membiayai Cloud DRaaS untuk beberapa tahun.

Tentunya, hal ini harus dicermati oleh para pimpinan bank untuk mempertahankan performa kinerja di laporan keuangan setiap tahunnya. DRaaS selain sebagai syarat kepatuhan perbankan yang harus dipenuhi, juga dapat menghindari bisnis anda dari kerugian yang cukup serius.

Saatnya mengambil keputusan

Fasilitas disaster recovery yang menjadi kewajiban perbankan nasional skala apapun, sebelumnya memang mahal. Saat ini, teknologi cloud dapat memungkinkan proses lebih mudah dan dengan biaya yang jauh lebih murah.

Selain itu, proses dalam menggunakan Disaster Recover as a Services sangat mudah dan cepat. Perbankan middle size kini semakin mudah dalam mengikuti syarat kepatuhan perbankan.

Setiap bisnis keuangan wajib memiliki solusi mitigasi bencana yang terbaik untuk dapat menghindari risiko kerugian besar akibat downtime.