Data Center Perusahaan Penerbangan Delta Padam

cegah downtime pada data center perusahaan penerbangan

Penundaan jadwal penerbangan selalu menjadi masalah besar dalam industri ini. Seperti yang terjadi baru-baru ini di Delta Airlines di Atlanta, Amerika Serikat.  Delta Airlines belum menjelaskan apa sebenarnya penyebab padamnya data center perusahaan penerbangan mereka di Atlanta pagi ini. Downtime ini menyebabkan operator penerbangan tersebut membatalkan ratusan penerbangan yang di jadwalkan pada hari itu.

Penyebab Padamnya Data Center Perusahaan Penerbangan Delta

Dikatakan pemadaman listrik di data center perusahaan penerbangan tersebut berdampak pada sistem komputer Delta Airlines dan operasi mereka di seluruh dunia. Juru bicara utilitas yang wilayah layanannya meliputi situs Atlanta mengatakan kepada Wall Street Journal bahwa tidak ada pemadaman listrik di wilayahnya pada Minggu malam atau Senin. Utilitas, Georgia Power, melakukan pengiriman beberapa pekerja untuk membantu data center Delta memperbaiki masalah dengan switch gear Senin pagi, kata juru bicara itu.

Delta telah posting update reguler setelah insiden pembatalan dan penundaan penerbangan. Update terakhir, diumumkan pada jam 13:30 waktu setempat, bahwa 451 penerbangan telah dibatalkan karena padamnya listrik di data center perusahaan penerbangan tersebut.

Sementara dampak langsung dari setiap kejadian downtime data center adalah gangguan bisnis dan kekecewaan pelanggan. Ada juga dampak biaya jangka panjang dalam kejadian ini. Untuk penyedia layanan data center, mungkin sebagian besar biaya tersebut dibebankan untuk memberikan kompensasi kepada pelanggan karena gagal dalam memenuhi tingkat layanan yang dijanjikan (Service Level Agreement). Biaya akibat padamnya data center perusahaan penerbangan ini agak mirip: pelanggan Delta berhak untuk pengembalian dana atas penerbangan yang dibatalkan atau tertunda secara signifikan.

Sulit untuk menghitung total biaya akibat padamnya listrik di data center, dan mereka sangat bervariasi tergantung pada sifat dari bisnis. Emerson Network Power telah mendanai survei periodik pada Ponemon Institute yang mencoba untuk mengukur dan melacak biaya rata-rata pemadaman pusat data di seluruh bisnis yang berbeda.

Mengukur Biaya Akibat Pemadaman Data Center Perusahan Penerbangan

Menurut survei terbaru, biaya rata-rata pemadaman data center tunggal pada tahun 2015 adalah $ 740.000. Yang paling mahal dilaporkan di tahun lalu adalah sekitar $ 2.400.000.

Sementara masalah infrastruktur listrik selama bertahun-tahun merupakan penyebab paling umum dari pemadaman data center, jumlah pemadaman yang disebabkan oleh cybercrime sekarang meningkat lebih cepat daripada jenis lain, menurut Ponemon.

Untuk kasus pemadaman data center di Delta Airlines ini, dengan 451 penerbangan yang di batalkan maka potensi penerimaan hilang. Kehilangan potensi penghasilan tersebut otomatis menyebabkan biaya saja yang timbul. Untuk mengukur biaya downtime secara akurat memerlukan penelaahan secara akuntansi oleh pihak internal atau kepada konsultan yang diberikan akses untuk menghitung biaya downtime tersebut.

Beberapa Kasus Padamnya Data Center di Perusahaan Penerbangan Lainnya

cegah downtime pada data center perusahaan penerbanganKejadian downtime pada data center perusahaan penerbangan tidak hanya terjadi di Delta Airlines. Beberapa bulan yang lalu hal yang sama terjadi pada Southwest Airliens yang mengakibatkan 2300 penerbangan dalam kurun waktu empat hari.

Masalah tersebut disebabkan oleh router komputer yang tidak berfungsi di data center mereka di Dallas. Akibatnya, maskapai penerbangan ini terpaksa mematikan seluruh sistem dan melakukan reboot, proses 12 jam. Biaya yang diakibatkan downtime pada perusahaan penerbangan ini adalah U$ 5 juta sampai U$ 10 juta (Sekitar Rp. 65 milyar hingga Rp. 130 milyar).

Pada Januari lalu, data center Verizon padam beberapa jam dan menyebabkan penundaan 200 penerbangan pada perusahaan penerbangan JetBlue. Tahun lalu di bulan Juli 2015, United Airlines juga mengalami hal yang sama.

Cara Mencegah Downtime Pada Infrastruktur Data Center Perusahaan Penerbangan di Indonesia

Disini dapat kita sadari bersama, bahwa perencanaan data center yang tidak menyertakan cadangan sumber daya listrik dapat menyebakan kerugian besar. Hal ini dapat dicegah dengan memberikan sumber daya listrik cadangan dari berbagai sumber, seperti N+1 UPS, Genset berukuran megawatt yang selalu standby, dan sumber listrik lainnya. Dan pada kasus padamnya data center Delta, hal ini dapat di cegah dengan membuat Automatic Switch Panel pada data center mereka dengan perhitungan khusus yang dapat mengakomodir pencegahan downtime.

Selain itu, berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah downtime pada perusahaan penerbangan (dan perusahaan lainnya).

  • Peusahaan maskapai penerbangan Indonesia harus terus meningkatkan infrastruktur teknologi mereka agar dapat lebih tahan lama.
  • Tambahkan pasokan listrik berlebihan ke pusat-pusat komputasi dan fasilitas lainnya.
  • Tingkatkan jumlah penyedia jalur telekomunikasi cadangan.
  • Menyewa perusahaan managed service yang mengkhususkan diri dalam teknologi untuk menangani sistem penting.
  • Memilki data center cadangan pada fasilitas data center Tier III yang ter-sertifikasi dan dapat diandalkan sebagai Disaster Recovery Center.

Sebetulnya, jika perusahaan mau menerapkan kebijakan business continuity plan maka kerugian downtime dapat di cegah. Masalahnya adalah jika persepsi terhadap biaya disaster recovery disamakan dengan biaya asuransi maka rencana mitigasi tersebut tidak akan pernah berjalan.

Biaya untuk disaster recovery center berbeda dengan asuransi, dimana asuransi hanya meng-cover jika sudah terjadi. Sedangkan disaster recovery center adalah untuk mencegah terjadinya kerugian. Disamping itu, tidak ada asuransi yang akan bersedia memberikan layanan terhadap padamnya data center, dan jika pun ada tidak ada perusahaan yang akan mengunakan layanan asuransi tersebut.

Seperti pada kasus Delta Airlines dan beberapa perusahaan penerbangan lainnya di dunia, mereka pun tidak pernah menyangka jika pemadaman listrik yang sudah mereka perkirakan dapat mereka tangani dengan genset ternyata mengalami masalah pada switch gear sehingga pasokan listrik mereka tidak dapat pulih berhari-hari.

Biaya Pencadangan Sistem dan Data Jauh Lebih Kecil

Jika dibandingkan dengan kerugian puluhan milyar, apalagi hingga ratusan milyar, tentunya dengan dana tersebut perusahaan penerbangan dapat membangun sendiri gedung khusus fasilitas data center. Akan tetapi, jika menggunakan fasilitas data center pihak ketiga yang mengkhususkan diri dalam melayani kebutuhan infrastruktur IT, maka biaya tersebut akan sangat jauh mengecil.

Kemajuan perusahaan penerbangan akan terhambat dengan kejadian downtime pada data center. Suatu data center harus memenuhi persyaratan ketat yang ditetapkan oleh para ahli, seperti sertifikasi uptime institute dan ISO 27001 untuk keamanan.

Seperti pada beberapa kejadian padamnya data center perusahaan penerbangan diatas, tentunya dengan mengalokasikan anggaran yang jauh lebih kecil dari potensi kerugian downtime yang selalu bersifat sebagai intangible cost maka perusahaan penerbangan Indonesia dapat lebih lepas terhadap mimpi buruk tersebut.

Namun, untuk memilih data center sebagai cadangan sistem IT perusahan, anda perlu melihat track record mereka, siapa client mereka selama ini, apakah mereka memiliki client yang lebih kritis jika mengalami downtime. Jika anda menemukan data center yang memenuhi syarat untuk misi kritis, maka segeralah untuk menjadwalkan pertemuan dengan mereka.

Dengan mengorbankan sedikit anggaran, perusahaan penerbangan dapat terlepas dari mimpi buruk akibat padamya data center internal yang berpotensi menyebakan kerugian ratusan milyar rupiah.

Komentar ditutup.