Adopsi Sistem Kontainer di Asia Tenggara (ASEAN)

Adopsi Sistem Kontainer di Asia Tenggara

Sistem kontainer telah membentuk pergeseran yang signifikan dalam pengembangan aplikasi enterprise serta penyebarannya. Sistem kontainer seperti docker menawarkan kemudahan penggunaan, fleksibilitas dan kelincahan. Baik itu modernisasi aplikasi yang ada atau membangun web baru atau beban kerja cloud secara umum. Sistem kontainer ini memungkinkan untuk memberlakukan DevOps di lingkungan kerja sehari-hari. Berdasarkan hal tersebut, perusahaan-perusahaan di wilayah ASEAN dimana termasuk Indonesia, lebih dituntut untuk cepat adopsi sistem kontainer tersebut.

Sistem kontainer menghapus ketergantungan pada mesin virtual dan hypervisor. Sistem kontainer duduk di lapisan sistem operasi yang seragam (OS). Dengan metode membungkus sebuah software untuk sistem file lengkap yang berisi segala yang dibutuhkan untuk menjalankan : kode, runtime, alat sistem dan system library. Hal ini menjamin bahwa aplikasi dan sistem akan selalu berjalan dengan cara yang sama, terlepas dari perbedaan lingkungan.

Aplikasi cloud-ready yang baru perlu dibangun untuk menarik sumber tanpa OS khusus. Hal ini jauh lebih mudah dan lebih cepat dalam membangun aturan-aturan ketika mengembangkan aplikasi baru dibandingkan dengan membangun aturan ke dalam aplikasi legacy – beberapa di antaranya dapat menjadi tua hingga 30 tahun.

Sistem kontainer sangat cocok untuk praktik terbaik DevOps karena bersifat ringan, portable, penyebaran dapat dilakukan lebih cepat dan hanya memerlukan satu standar operasi. Manfaat dari adopsi sistem kontainer bagi perusahaan adalah dapat lebih cepat merespon perkembangan dan perubahan yang terjadi.

Ketertarikan Terhadap Sistem Kontainer Belum Membawa Adopsi Yang Signifikan

Pada bulan Juni 2015, ada sebuah hasil survei (yang mewakili lebih dari 383 professional IT dan para pembuat keputusan secara Global) menilai rencana perusahaan untuk mengadopsi sistem kontainer. Survey tersebut menemukan bahwa sementara adopsi kontainer kemungkinan melonjak dalam beberapa tahun ke depan. Hal tersebut juga mengindikasikan kekhawatiran terhadap keamanan, sertifikasi dan keterampilan staff tetap yang memadai.

Hasil survei menunjukkan rencana perusahaan yang kuat untuk penyebaran kontainer. 67% responden berencana untuk adopsi sistem kontainer dalam waktu dua tahun ke depan.

Sementara niat untuk mengadopsi teknologi kontainer mungkin ada di antara perusahaan besar, menggunakan teknologi yang ditawarkan oleh perusahaan seperti Docker dan CoreOS. Namun hingga kini adopsi tersebut belum signifikan, malahan banyak perusahaan startup yang menggunakan teknologi tersebut hingga dapat lebih maju pesat dengan cepat.

Kontainer mengemas software dengan menghilangkan ketergantungan pada platform tertentu dan membawa transparansi untuk pembangunan aplikasi. Ini menjadi teknologi penting karena gelombang transformasi digital dan kebutuhan bagi perusahaan untuk menghadapi startup bisnis yang bermunculan di pasar.

Perkembangan Adopsi Sistem Kontainer di Asia Tenggara

Asia Tenggara menawarkan peluang pasar yang sangat besar. Terdapat ratusan juta penduduk, dimana banyak perusahaan (dan pemula) berkeinginan untuk memasuki pasar ASEAN. Namun, ini juga merupakan pasar yang cepat berkembang, terutama dalam hal adopsi teknologi. Hal tersebut ditenggarai oleh dampak urbanisasi yang cepat dan pertumbuhan belanja konsumen, khususnya di kalangan kelas menengah di kawasan ini. Kartu kredit semakin mudah disetujui oleh perbankan, kepemilikan sesuatu diatas kemampuan seseorang terjadi cukup masiv di wilayah tersebut. Sehingga banyak perusahaan berlomba untuk memanfaatkan momentum tersebut sebelum hilang pada waktunya.

Situasi ini mendorong para pemimpin teknologi di perusahaan dan bisnis yang berada di wilayah ini untuk merespon kebutuhan pasar dengan solusi dan aplikasi yang dapat diuji dan disebarkan secepat mungkin. Dan disinilah tantangannya!

Sementara bisnis perlu untuk melepaskan dan menyebarkan aplikasi baru secepat mungkin, namun hal tersebut perlu dilakukan tanpa menyebabkan gangguan pada operasi bisnis yang sedang berjalan.

mitra pengembangan sistem informasi perusahaanBeberapa perusahaan lama yang telah memiliki sistem “mapan” ternyata harus merubah lagi sistem mereka tersebut untuk dapat bersaing dengan para startup. Pada kondisi tersebut, teknologi kontainer mungkin menghadapi keterbatasan. Namun, perusahaan-perusahaan di ASEAN dapat diharapkan untuk lebih mengadopsi secara bertahap dengan menggunakan arsitektur MicroService.

Para CIO di Asia tentu khawatir dengan tuntutan kelincahan dalam mengelola bisnis mereka dimana target ekspektasi terus meningkat.Bagaimanapun, mereka dibatasi oleh sistem ‘warisan’ mereka. Tampilan awal adalah bahwa istilah ‘kontainer‘ bahkan belum populer bagi sebagian besar CIO di Asia.

Contoh Perusahaan di Asia Tenggara Yang Adopsi Teknologi Kontainer

Sementara perusahaan besar di ASEAN mengalami hambatan oleh sistem lama mereka, perusahaan startup datang lebih cepat memenuhi pasar. Ada pergeseran global menuju arsitektur Microservice yang didukung oleh teknologi, seperti Docker.

Ada banyak pengadopsi awal pengembangan Microservice di seluruh ASEAN. Contohnya Alpha7, sebuah perusahaan startup penyedia layanan cloud yang berbasis di Singapura. Mereka membangun sistem dan platform menggunakan kontainer.

COO Alpha7 mengatakan bahwa mereka bisa menggelar aplikasi dan layanan secara lebih efisien. Hal tersebut memungkinkan pelanggan mereka untuk menikmati fitur baru dan fungsi lebih cepat dari sebelumnya. Berdasar kemajuan dalam pelayanan tersebut, mereka mendapat keunggulan kompetitif di pasar.

Sistem Docker cukup sederhana untuk penyebaran di lingkungan cloud karena pengemasan dan efisiensi pengiriman. Misalnya, dari lingkungan pembangunan lokal, kita dapat merubah antara bagian development, pengendalian kualitas dan operasional baik dari cloud atau ke lingkungan on-premise, dengan tumpukan yang sama berjalan dari beberapa lokasi.

Pendekatan dual-model yang dapat bekerja

Sementara perusahaan di Asia Tenggara umumnya menolak risiko dan secara tradisional lambat untuk menerapkan sistem baru, tantangan yang muncul (untuk yang inovatif setidaknya) adalah untuk ‘menyulap‘ waktu-ke-pasar terhadap penghindaran risiko tersebut. Apakah ada solusi, jalan tengah?

Secara tradisional, lingkungan operasi dual-mode adalah metodologi yang lebih disukai, yang terdiri dari produksi dan beta testing. Dengan diperkenalkannya kontainer dan teknologi Docker, operasi dual-mode dapat dijalankan dengan mudah dan cepat, biaya lebih rendah dan kehandalan yang lebih besar dalam penyediaan sistem yang baru.

Perusahaan sudah saatnya melakukan adopsi sistem kontainer karena dapat memperpendek siklus inovasi. Facebook dan LinkedIn menggunakan teknologi kontainer dan Google menyebarkan sekitar dua milyar instance dalam setahun.

Dalam konteks Asia, mengganti sistem lama untuk sebuah teknologi baru membutuhkan upaya yang signifikan. Usaha tersebut tidak hanya terletak departemen TI, namun terhadap seluruh elemen bisnis. Perusahaan harus bersedia untuk memprioritaskan ini dengan inisiatif potensi lain yang dapat mendorong perkembangan atau pertumbuhan bisnis.

Tantangan bagi kebanyakan CIO adalah untuk memiliki waktu dan kepercayaan diri untuk beralih ke teknologi yang lebih baru, termasuk sistem kontainer. Penggunaan teknologi yang tepat membutuhkan waktu dan modal untuk dapat mebawa kemajuan pada perusahaan.

Wilayah ASEAN membutuhkan dukungan infrastruktur yang kompeten untuk mengadopsi teknologi ini agar para CIO lebih percaya diri. Para CIO di wilayah ASEAN mengakui bahwa mereka kekurangan sumber daya dan tenaga ahli. Mereka bergantung pada dukungan outsourcing. Jika dukungan outsourcing terbatas untuk teknologi baru, kemungkinan adopsi sistem kontainer akan tetap lambat.