Perkembangan Fintech Semakin Bertumbuh Pesat di Dubai

Perkembangan Fintech di Dubai

Perusahaan startup dan teknologi di Dubai telah datang jauh dalam tiga dekade terakhir. Seiring dengan perkembangan FinTech, Dubai sekarang menjadi pusat bisnis utama di Timur Tengah, menarik investor dan pengusaha dari seluruh dunia. Lihatlah bagaimana Dubai memberikan dorongan menjadi negara pemimpin teknologi jasa keuangan yang menjadi pusat industri FinTech di dunia.

Dorongan Terhadap Perkembangan Fintech di Dubai

Berikut adalah beberapa fakta singkat tentang perkembangan fintech dan teknologi di Dubai:

  • Dubai memiliki perkiraan populasi 2.701.977.
  • Sejak tahun 1998, total perdagangan internasional Dubai telah tumbuh rata-rata sebesar lebih dari 11 persen.
  • GDP kota Q1 adalah US$ 25.953 juta.
  • Dubai adalah bagian dari Uni Emirat Arab, yang dianggap memiliki tingkat kriminalitas rendah dan negara yang stabil secara politik.
  • Kota ini mampu menarik investor karena biaya logistik dan operasional yang rendah dan infrastruktur yang sangat baik, wawasan internasional dan kebijakan pemerintah.
  • Pada 2016 November, tingkat inflasi adalah 0,12 persen.
  • Pada 2012, Dubai adalah 22 kota termahal di dunia dan kota paling mahal di Timur Tengah.
  • Bank Dunia memberikan peringkat Uni Emirat Arab sebagai negara terbaik ke 26 dari total 190 negara di dunia untuk melakukan bisnis pada tahun 2017.

Dubai dianggap sebagai sarang teknologi keuangan dan inovasi. Tidak hanya di Timur Tengah tetapi secara global. Kota ini terletak di pusat, yang secara global diakui sebagai hub untuk bisnis Eropa, Afrika dan Asia, yang menempatkan fokus pada meningkatkan statusnya sebagai ibukota FinTech dunia.

Sebagai pusat perkembangan FinTech, Dubai telah sejajar dengan kota-kota seperti London, New York dan Singapura.

Yang membuat Dubai berbeda dari negara-negara Timur Tengah lainnya adalah dukungan dan dorongan dari kepemimpinan negara itu, yang tak kenal lelah untuk membuat negara menjadi pemimpin dalam inovasi kota pintar (SmartCity).

Baru-baru ini, ada juga terjadi lonjakan besar di perusahaan teknologi yang mengoncang pasar. Dari pengecer seperti Souq.com ke penyedia pembayaran seperti Beam Wallet dan bahkan ke transportasi online setempat Careem (seperti Uber / GoJek).

Munculnya bisnis baru yang berpenagruh di Dubai merupakan indikasi dari kenyataan bahwa lingkungan UEA memiliki permintaan besar terhadap bisnis online dan m-Commerce. Dengan infrastruktur kelas dunia yang tersedia, ini merupakan waktu yang baik untuk menjalankan bisnis digital pertama di Dubai.

Perkembangan FinTech Hive Menghasilkan Buzz

Awal bulan ini, Dubai International Financial Centre (DIFC) mengumumkan akan bermitra dengan Accenture untuk meluncurkan akselerator FinTech di Dubai yang diarahkan baik untuk startups regional dan internasional.

Dengan pertimbangan sebagai akselelator FinTech pertama, FinTech Hive ini bertujuan untuk memberdayakan pengusaha dalam berinovasi dan menjadikan DIFC menjadi pusat global untuk inovasi FinTech.

Pusat FinTech di DIFC diharapkan untuk memberikan dukungan pada teknologi jasa keuangan di Timur Tengah, Afrika dan Asia Selatan. Hal ini juga di harapkan untuk turut serta mendukung platform yang membawa FinTech bersama-sama untuk meningkatkan akses, meningkatkan layanan pelanggan dan efisiensi operasional di seluruh industri.

DIFC diposisikan secara unik untuk menjadi pusat penghubung Fintech untuk regional. Dengan menempatkan bank lokal dan perusahaan FinTech bersama untuk berkolaborasi dan bermitra. DIFC membantu kedua sektor berada di garis depan industri jasa keuangan.

Program akselelator akan mengidentifikasi pengusaha terbaik dalam industri jasa keuangan dan untuk memberikan akses yang sangat berharga serta mendapatkan umpan balik dari pelanggan potensial serta penyandang dana.

Proyek Pusat FinTech di DIFC akan dimulai dengan program akselerator 12 minggu. Program ini bertujuan agar pemimpin dan pengusaha generasi berikutnya dapat bersaing dan berkolaborasi dalam mengatasi kebutuhan industri FinTech di kawasan itu.

Melalui kepemimpinan yang luar biasa di Dubai, FinTech telah diprioritaskan sebagai peluang besar. Kita dapat melihat efek dari prioritas ini di seluruh UAE. Perkembangan FinTech telah terjadi hampir di seluruh dunia, Dubai tidak mengambil kursi belakang dalam evolusi dan produksi teknologi jasa keuangan terbaru.

Transformasi ‘Kota Pintar’ di Dubai

Sebuah Inovasi baru dan kreativitas datang ke Dubai melalui kemitraan strategis perusahaan pemerintah Nedaa dan Nokia.

Inovasi teknologi berkelanjutan yang mendukung Smart City melalui pengembangan aplikasi untuk meningkatkan ekosistem Internet of Things (IoT) di Dubai. Organisasi akan fokus dalam memberikan solusi yang membantu pada sektor pelayanan pemerintah dan misi-kritis di berbagai industri, termasuk pendidikan, kesehatan, utilitas dan transportasi.

Kota ini telah mendapat perhatian dalam beberapa tahun terakhir untuk menjadi lokasi yang menarik bagi pengusaha dan investor

Dubai selalu berada di garis depan adopsi teknologi pada beberapa tingkat. Hal ini telah lama mereka rencanakan dan menghasilkan hal yang stabil dalam menyiapkan akar dalam strategi jangka panjang.

Sementara perusahaan startup teknologi masih memiliki banyak ruang untuk tumbuh, banyak pemimpin industri yang bekerja keras dalam menciptakan dan memelihara lingkungan IT yang sudah ada.

Apakah itu pembentukan perusahaan, visa, bahkan undang-undang kepailitan, mereka semua di bawah diskusi dengan berbagai kelompok pemerintah yang memiliki pengetahuan nyata dan keahlian pada bidang masing-masing. Perubahan akan datang, dan itu akan terjadi dengan cepat.

Karena semakin banyak program yang membantu pembenukan ekosistem teknologi di Dubai, inisiatif ini akan memungkinkan inovasi dan potensi untuk dipanen, menarik dan tumbuh di Dubai dan dipakai secara global.

Meskipun Dubai memberikan banyak penawaran unik untuk pengusaha dan investor, baik regional maupun internasional, jelas kota ini baru saja memulai kememajukan FinTech dan lanskap startup.

Perkembangan Fintech di Indonesia

Perkembangan Fintech di Dubai telah menjadikan Dubai sebagai tanah kesempatan. Jika Indonesia bersedia untuk mendedikasikan sumber daya dan mengeksplorasi kemungkinan, Indonesia dapat mengambil peran dalam bidang ini. Dengan infrastruktur kelas dunia dan pasar lokal serta Asia Tenggara, Indonesia juga dapat menjadi pemimpin industri fintech di dunia.

Saat ini di Indonesia sudah ratusan perusahaan fintech yang terdaftar di OJK. Peraturan demi peraturan telah di terbitkan. Namun akan menjadi suatu pertanyaan besar, penegakan peraturan yang minim akan menjadi masalah dalam industri Fintech di Indonesia. Salah satu batu sandungan terbesar di Indonesia adalah masalah penegakan kedaulatan data. Namun, hal ini sudah dapat di atasi dengan solusi hybrid data center di tiap perusahaan.

Indonesia memiliki ratusan juta pengguna internet. Fintech dapat menjangkau ke seluruh pelosok dalam memberikan layanan keuangan. Sebuah platform dompet digital secara global memang perlu disiapkan di Indonesia untuk mendorong lahirnya startup fintech. Ekosistem secara online ini perlu di dukung dengan sebuah wadah. Indonesia dapat menggunakan SMESCO sebagai pusat Fintech dan e-Commerce bagi para pengguna startup.

Program OK OCE yang di gagas oleh Cagub DKI Sandiaga Uno dapat memberikan peluang lebih besar dalam mengupayakan perkembangan Fintech dan mobile commerce (m-commerce) di tanah air. Kami akan sangat senang sekali untuk dapat berdiskusi dengan para praktisi di tanah air. Silahkan reply comment dibawah ini untuk memulai diskusi. Terimakasih!